IJN Shokaku Aircraft Carrier

IJN Shokaku (foto: www.militaryfactory.com)
Nama: IJN Shokaku 
Tipe Klasifikasi: Aircraft Carrier 
Kelas Kapal: Shokaku-class 
Negara Asal: Kekaisaran Jepang 
Jumlah Sekelas: 2 
Operator: Kekaisaran Jepang 
Kapal Sekelas: IJN Shokaku, IJN Zuikaku 
Shokaku (atau “Bangau Terbang”) adalah lead ship dari dua kapal induk Imperial Japanese Navy (IJN), termasuk kapal sekelasnya, Zuikaku (“Bangau Keberuntungan”). Burung bangau dalam tradisi Jepang telah lama menjadi simbol kecantikan dan panjang umur, deskripsi yang sulit diterima dalam dunia militer tetapi artinya dapat dimengerti. Konstruksi Shokaku dimulai di Naval Yard Yokosuka pada Desember 1937 dan ukuran dan spesifikasinya dirahasiakan dari pengamat militer dunia. Setelah berakhirnya permusuhan dari PD I, kekuatan dunia terikat bersama untuk menandatangani Washington Naval Treaty, sebuah perjanjian yang didesain untuk menghalangi pembuatan kapal kapital besar dan bersenjata berat. Penanda tangannya termasuk Jerman dan Kekaisaran Jepang, dan keduanya dengan cepat melanggar perjanjian dengan membangun mesin perang masif dan kuat. Jepang memiliki sebuah rencana besar untuk memperluas pengaruh nya di Timur dan membuat banyak kapal perang baru yang dispesifikasikan dalam Fleet Replenishment Program di bawah IJN. Program ini termasuk pembangunan dua kapal perang terbesar di dunia, IJN Yamato dan IJN Musashi.

Desain Shokaku berdasar pada konsep pembangunan terbaik dengan informasi yang dikumpulkan dari pengalaman tempur air biru oleh kelas Akagi, Kaga dan Soryu. Kedua kapal kelas Shokaku dibangun dengan spesifikasi sebanding dengan bobot mati sekitar 25,675 ton, and dengan kecepatan maksimal 34.2 knot. Didukung dengan mesin yang paling kuat yang belum pernah digunakan dalam kapal induk IJN lain, kelas ini dipasangi dengan empat turbin bergigi Kanpon bersama dengan 8 pendidih yang menghasilkan 160,000 shaft horsepower. Shokaku lebih panjang 90-kaki dan memiliki berat 50% lebih dari pada kapal induk kelas Soryu dan Hiryu. Bangau Terbang akan diawaki oleh 1,660 opsir dan awak.

Setelah selesai, Shokaku menjadi kapal induk paling modern milik IJN dan menjadi saah kapal induk terbaik di dunia. Mekaniknya tidak hanya mengerti kebutuhan untuk tambahan ruang penyimpanan pesawat tetapi juga mengerti kebutuhan untuk merotasinya sehingga siap beraksi setiap saat. Tiga elevator digunakan dalam desain dek. Elevator-elevator ini memfasilitasi pergerakan pesawat temput naik dan turun dari dek hangar ke dek penerbangan, mengijinkan pesawat untuk diperlengkapi ulang (diisi bahan bakarnya dan di persenjatai ulang) dan diluncurkan secara cepat. Untuk membantu mempertahankan moral awak pekerja keranya, ruang yang nyaman dibuat di dalam Bangau Terbang.

Untuk pertahanan terhadap kapal permukaan dan pesawat musuh yang datang, Shokaku dipersenjatai dengan 8 x terpasang kembar (berpasangan) dari 16 x meriam 5-inci dan 36 kanon anti-pesawat 25mm. Pada 1944, 96 x kanon anti-pesawat 25mm ditambahkan. Alokasi lapis baja pertahanan termasuk 6.5-inci protecting magazine spaces dan 3.9-inci untuk dek. Area permesinan diberikan perlindungan lapis baja 5.1-inci. Untuk penyerangan, Shokaku dapat mengangkut 84 pesawat termasuk 18 x fighter Mitsubishi A6M “Zero”, 27 x dive bomber Aichi D3A “Val” dan 27 x pesawat torpedo Nakajima B5N “Kate” dalam dua hangar. PD 2 mengawali era kapal induk dan pulau mengapung ini membawa peperangan kepada musuh. Fighter berperan sebagai tameng udara untuk dive bomber dan torpedo bomber, yang digunankan secara langsung untuk menyerangan kapal permukaan atau target darat sesuai kebutuhan.

Konstruksi kedua kapal induk ini tertunda selama beberapa waktu ketika aransemen cerobong asap dirubah setelah selesai. Cerobong asap dipindah di belakang supersturktur di bagian kanan kapal. Juga sesuai pengalaman para awak yang selamat dari kapal induk IJN Kaga – kapal ini hilang saat Battle of Midway – mengindikasikan bahwa kebakaran bertambah dan meningkat di luar kendali karena adanya ruang udara di sekitar tangki bahan bakar. Untuk mengantisipasinya, beton digunakan untuk mengisi ruang udara ini. Shokaku diluncurkan pada 1 Juni 1939 dan secara resmi selesai dan ditugaskan pada 8 Agustus 1941.

Lima bulan sebelumnya, pada 10 April, IJN membentuk First Air Fleet – Kido Butai atau Mobile Unit Force. Armada ini terdiri dari seluruh armada dan kapal induk kecil yang didukung oleh 474 pesawat, 2 battleships, 3 cruiser, 9 destroyer, 8 tanker, 23 kapal induk dan 4 kapal induk kecil. Inisiatif militer bersejarah ini adalah sebuah konsep baru dalam naval aviation – dan pada dasarnya menjadi satuan tugas kapal induk taktis pertama. Setelah Shokaku dan kapal kembarannya Zuikaku selesai menjalani pelayaran “shake down”, mereka bergabung dengan kapal induk lain dalam Kido Butai – Akagi, Kaga, Soryu dan Hiryu. Grup kapal induk ini, di bawah Admiral Yamamoto, menjalani pelatihan untuk penyerangan selanjutnya yang menyeret AS ke dalam PD II – serangan kejutan di Pearl Harbor, Hawaii.

Otoritas Jepang merasa bahwa negara ini telah siap untuk perang secara penuh. Angkatan Lautnya menjadi sangat superior jika dibandingkan dengan negara lain pada 1941, dengan 10 kapal induk1.500 aviator terlatih dan teruji. Bersama dengan kapal permukaan, kapal induk dan aviator berkualitas terbaik mereka juga memiliki pesawat figter berbasis kapal induk terbak pada saat itu, Mitsubishi A6M “Zero” dan pesawat torpedo Nakajima B5N “Kate”.

Penyerangan Pearl Harbor

Pada September 1941, Shokaku dikirim untuk berpatroli bersama dengan 1st Air Fleet di area Kobe dan Kure di dalam perairan dalam negeri. Kapten pertamanya, Yokokawa Ichibei, terus melatih awaknya hingga mereka dipanggil untuk bertugas dengan Kido Butai. Pada 26 November 1941, Shokaku dan lima kapal induk lainnya bersama dengan kapal pendukung angkatan serang Jepang meninggalkan Jepang di bawah radio senyap dan berada di lautan untuk 12 hari, mencapai 200 mil dari pantai Oahu, Hawaii pada 7 Desember 1941 – siap untuk menghancurkan angkatan kapal induk Amerika yang berpangkalan di sana. Shokaku bergabung dengan kapal induk lain meluncurkan total 408 pesawat – 360 digunakan dalam dua gelombang serangan terhadap pelabuhan dan 48 “Zero” untuk CAP (Combat Air Patrol) di atas wilayah udara penyerangan. Setelah pesawat mendarat dari serangan gelombang kedua, komandan armada Admiral Nagumo memutuskan untuk tidak meluncurkan gelombang serangan ketiga karena diketahui bahwa kapal induk Amerika tidak ada yang berada di Pearl Harbor pada saat itu dan armada IJN yang utuh akan sangat diperlukan di masa yang akan datang. Perang total telah dimulai dengan kemenangan serangan Jepang, dan Shokaku telah memainkan bagiannya.

Armada Kido Butai, dengan Shokaku yang ditarik, mundur kemali melalui Pasifik ke Jepang. Pada 23 Desember1941, Shokaku diperintahkan untuk kembali ke perairan dalam negeri oleh Hashirajima bersama Akagi, dan Kaga. Pada 8 Januari 1942, diperintahkan untuk bergerak ke pangkalan Pasifik di Truk Lagoon, pelabuhan ini berperan sebagai jangkar utama IJN di Pasifik. Pangkalan ini memiliki lima landasan pesawat, sebuah laguna dalam untuk menjangkarkan kapal perang, stasiun kapal torpedo, tempat kapal selam, sebuah pusat komunikasi/radar, fasilitas pasukan dan meriam pertahanan pantai, membuatnya menjadi penting bagi AL Jepang seperti halnya Pearl harbor bagi AL AS.

Shokaku menggunakan Truk as pangkalan ketika dia meluncurkan serangan sesuai perintah. Berita diterima bahwa sebuah kapal induk AS sedang menuju Kepulauan Marshall untuk menyerang instalasi dan shipping lokal jepang. Shokaku dan sebuah armada destroyer penyaring (yang terdiri dari Shiranuhi, Kasumi dan Urakaze) dikirim unruk mengantisipasi serangan. Armada Amerika membatalkan serangan ketika ditantang dan dikejar oleh Shokaku anddan destroyernya. Armada Amerika pada akhirnya kabur dan Shokaku menuju benteng Jepang di pulau Palau. Setelah kembali ke Truk, Shukaku dipanggil kembali ke perairan jepang pada Februari 1942 dan tiba di Yokosuka. Pada saat itu dia diperintahkan untuk bergabung ke Strike Force Main Body hingga 15 Maret.

Pertempuran di Samudera Hindia

Penyerbuan di Samudra Hindia peripa penyerangan oleh Fast Carrier Strike Force milik Imperial Japanese Navy pada akhir Maret hingga 10 April 1942. Aksi ini meargetkan jalur kapal Inggris di sepanjang Samudera Hindia. Shokaku bersama dengan kapal induk Akagi, Zuikaku, Soryu dan Hiryu, ditugaskan ke First Air Fleet, Division 5 dan pada 5 April1942, dia meluncurkan penyerangan ke armada Inggir di Kolombo. Dua cruiser Inggris, HMS Cornwall dan HMS Dorsetshire, ditemukan di laut dan ditenggelamkan oleh armada kapal induk IJN. Armada Inggris di Trincomalee, Ceylon menerima sambungan radio penyerangan dan menjadi kuatir dengan kapal induk HMS Hermes yang sedang dalam perbaikan. Keputusan dibuat untuk memindahkan Hermes dari lautan dengan perlindungan korvet HMS Hollyhock, destroyer HMAS Vampire dan dua kapal tangker. Untuk suatu alasan, air arm milik Hermes ditinggalkan di pantai. Pada 9 April skuadron Inggris diserang oleh 70 dive bomber Jepang dari kapal induk Division 5 IJN, termasuk pesawat dari Shokaku, membuat Hermes tenggelam setelah terkena tidak kurang dari 40 bomb. Hermes tenggelam dengan cepat bersama dengan 307 awaknya. Korvet Hollyhock, destroyer HMAS Vampire dan dua tanker juga ditenggelamkan oleh kapal induk IJN. Jika Skuadron 814 Royal Navy bersama dengan Hermes pada saat itu, kemungkinan beberapa pesawat serang Jepang dapat ditangani. Biar bagaimanapun, penyerangan ini merupakan kemenangan besar Jepang dari armada Inggris.

Pertempuran Laut Coral

Shokaku ditugaskan kembali ke Truk untuk bersiap-siap melakukan serangan ke Laut Coral, aksi ini diberi nama sebagai “Operation MO”. Operasi ini adalah operasi gabungan AL dan AD untuk menginvasi Port Moresby, New Guinea dengan pasukan dan Tulagi sebagai pangkalan vital. Dilindungi oleh kapal induk kecil Shoho, armada ini terdiri dari tiga cruiser berat, 14 destroyer dan beberapa kapal tambahan untuk melindungi 12 kapal transportasi yang mengangkut 5.500 pasukan serang Jepang. Penaklukan Moresby berpotensi untuk mengarah pada penyerangan pasukan sekutu di wilayah tersebt dan mungkin lebih penting lagi penyerangan di masa yang akan datang ke tanah Australia sebagai persiapan untuk invasi ke negara tersebut. Armada serang kapal induk yang dibentuk dari kapal induk Zuikaku dan Shokaku, dua heavy cruiser, dan enam destroyer berlayar dari Truk pada 1 Mei. Akan tetapi, AL AS dan para pemecah kode terlatih milik mereka berhasil memecahkan kode AL J25 Jepang. AL AS bersiaga dengan serangan Jepang dan segera beraksi menuju ke Port Moresby. Admiral Chester Nimitz AL AS mengirimkan armada kapal induk USS Yorktown (CV-5) dan USS Lexington (CV-2) ke laut Coral untuk mencari posisi melindungi Port Moresby. Kapal induk AS dilindungi oleh sembilan cruiser, 13 destroyer, sebuah tender pesawat amfibi dan satu oiler.

Pada 8 Mei 1942, pesawat dari kedua belah pihak menemukan armada kapal induk musuh, memulai yang dikenal sebagai pertempuran kapal induk versus kapal induk pertama di sejarah dunia kelautan, “Battle of Coral Sea”. Kapal induk kecil Jepang Shoho ditenggelamkan bersama satu destroyer dan enam kapal IJN kecil mengalami kerusakan berat. Kapal induk armada Shokaku rusak karena serangan dive bomber AS, yang masing2 membom kapal induk dengan bom 1,000-pound (454 kg). Dua dive bomber lain meleset dan 11 serangan torpedo dari TBD milik Lexington meleset dari Shokaku. Akan tetapi, dek penerbangan Shokaku mengalami kerusakan serius dalam pertempuran tersebut, serta menewaskan dan melukai 223 awak. Hal ini jelas menyakitkan bagi kaptennya bahwa Shukaku tidak dapat lagi melakukan operasi pesawatnya. Kapten Takatsugu Jojima meminta ijin dari pusat IJN di Takagi untuk mundur dari pertempuran. Ijin diterima dan Shokaku diperintahkan untuk kembali ke perairan Jepang, dengan perlindungan dua destroyer. Jepang kehilangan satu kapal induk kecil, satu destoyer, dan tiga kapal perang kecil bersama dengan kerusakan satu kapal induk armada, satu destroyer, dua kapal perang kecil dan satu kapal transport. Secara total, Jepang kehilangan 92 pesawat serta 966 pilot, air crew dan pelaut IJN. Masa Peperangan Kapal Induk telah dimulai.

USS Lexington mengalami kebakaran karena kebocoran bahan bakar yang disebabkan oleh bom dan harus ditenggelamkan oleh destroyer Amerika pada 8 Mei1942.Sebagian besar pilot, air crew dan ship crew selamat karena tanktik pemadaman kebakaran dan cukupnya waktu untuk berpindah ke destroyer. Pesawatnya berhasil dipindahkan ke kapal induk lain. Awak-awak yang terlatih dan pesawat yang kuat ini kemudian ditugaskan ke kapal induk lain untuk bertempur di kemudian hari. AL Amerika kehilangan USS Lexington, satu destroyer, satu oiler. Kapal Induk USS Yorktown mengalami kerusakan. Total 69 pesawat hilang dan 656 pelaut tewas dalam pertempuran.

Hasil dari pertempuran ini Jepang mengalami kekalahan yang dianggap minimal. Tetapi lama dan sulitnya pelatihan pilot dan awak membuat lambat penggantian di dalam armada. Sebaliknya, aircrew Amerika dilatih di banyak negara mengikuti jadwal “assembly line”. Singkatnya, Battle of Coral Sea membantu AL AS mengasah taktik dan strategi bertahan untuk pertempuran selanjutnya.

Shokaku, mencapai galangan perbaikan di Kure Jepang, nyaris terbalik selama perjalanan pulang karena laut yang tidak bersahabat dan kerusakan yang dialami akibat pertempuran di Laut Coral. Staf Jenderal IJN memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk memperbaiki kapal induk dan melengkapinaya kembali dengan air group. Kerusakan perang di Laut Coral membuat Shokaku dan Zuikaku tidak dapat berpartisipasi dalam operasi Midway Island dari Yamamoto. Oleh karena itu, hanya empat kapal induk Jepang yang menghadapi kapal induk Amerika, bukan enam seperti rencana IJN. Hasilnya sangat merugikan bagi Jepang. Berita kekalahan armada Kapal Induk Jepang di Midway, bersama dengan 248 pesawat, sebuah heavy cruiser, di tambah tewasnya 2,013 orang termasuk banyak pilot dan air crew, memukul militer Jepang dengan sangat keras, sama dengan serangan Pearl Harbor bagi Amerika.

Pertempuran Kepulauan Solomon Timur

Setelah perbaikan, Shokaku kembali ke Pasifik dan terlibat dalam pertempuran kapal induk ketiga pada PD II, Pertempuran Kepulauan Solomon (Battle of the Eastern Solomons Islands) pada Agustus 1942. Shokaku dan sister ship-nya bersama kapal induk kecil Ryujo, dua battleship, 16 cruiser dan 25 destroyer ditambah kapal patroli dan kapal transpor dikirim untung mengantisipasi pendaratan Guadalcanal. Pendaratan Amerika didukung oleh tiga satuan tugas (TF=Task Force), TF 11 USS Saratoga, TF 16 USS Enterprise dan TF 18 USS Hornet. Operasi IJN dimulai pada 24 dan 25 Agustus 1942. Kapal induk kecil Ryujo ditenggelamkan bersama dengan sebuah destroyer, kapal angkut pasukan dan cruiser ringan. Sebuah tender pesawat amfibi rusak dan armada kapal induk IJ N kehilangan 75 pesawat dan lebih dari 290 orang. Kapal induk AS, USS Enterprise mengalami kerusakan, tetapi tidak ada kapal Amerika yang ditenggelamkan dan hanya kehilangan 25 pesawat dan 90 orang. Shokaku tidak rusak dan kembali dalam keadaan utuh ke Truk pada 5 September 1942. Pertempuran ini memberikan kemenangan bagi Amerika dan kehilangan awak bagi IJN yang terus berlanjut.

Pertempuran Kepulauan Santa Cruz

Kemudian pada 1942, setelah Shokaku teah dirawat dan menerima aircrew dan pesawat baru, dia mengambil bagian pada operasi IJN “Battle of the South Pacific” (atau “October Battle of the Santa Cruz Islands” sesuai nama yang diberikan oleh US Naval Operations CINCPAC). Pertempuran berlangsung pada 26 Oktober 1942 yang merupakan pertempuran besar antara AL AS dengan IJN selama kampanye Guadalcanal. Admiral Yamamoto merasa harus membalas kekalahan IJN pada Battle of Midway dengan menyerang dan menghancurkan kapal induk AS di Guadalcanal menggunakan kapal induk Jepang dan kapal perang pendukungnya. Yamamoto mempertahankan armadanya dengan empat kapal induk termasuk Shukaku, 199 pesawat, 6 kapal perang, 10 cruiser dan 22 destroyer di barat laut Kepulauan Solomon menunggu kesempatan untuk mendekati dan menyerang armada Amerika di Guadalcanal. Armada AS terdiri dari 2 kapal induk armada, 136 pesawat, 1 kapal perang, 6 cruiser, dan 14 destroyer.

Pada pukul 5:00 pagi 26 Oktober, kedua grup kapal induk ini berada pada jarak 200 mil laut. AL AS menggunakan radar canggihnya dan mendeteksi pesawat Jepang. Akan tetapi laporan buruk dari kapal pencari kedua belah pihak terlihat lebih menguntungkan AS di situasi ini. 11 dive-bomber SBD AS menyerang Shokaku pada pukul 09:27, menghantamnya dengan tiga hingga enam bom dan merusakkan dek penerbangan. INi juga menyebabkan kerusakan serius pada dek hangar di bawahnya dan bahkan dek yang lebih dalam di dalam perut kapal. Pasukan Advance dan kapal perang Vanguard milik Kondo bergerak bersama menuju posisi kapal induk AS berdasarkan laporan terakhir dan mencoba mengatasinya. Zuiho rusak sangat parah sehingga tidak dapat mendaratkan pesawatnya lagi. Shokaku yang rusak, dengan Admiral Nagumo di atasnya, mundur dari area pertempuran meninggalkan Rear Admiral Kakuji Kakuta yang bertanggung jawab di kapal induk Zuikaku. Kakuta memimpin armada kapal induk yang tersisa termasuk kapal induk Junyo. Kapal induk AS USS Hornet ditinggalkan ketika kapal milik Kakuta menemukannya. USS Hornet kemudian dicek untuk kemungkinan di rampas, akan tetapi kemudian ditorpedo oleh destroyer IJN ketika diputuskan bahwa kapal tersebut tidak berguna.

Kehilangan dan kerusakan akibat pertempuran tersebut bagi AS adalah satu kapal induk (USS Hornet) tenggelam ditambah satu destroyer, 26 air crew hilang, 81 pesawat hancur, satu kapal induk rusak bersama dengan dua destroyer, dan 226 tewas. Lagi, pertempuran tersebut merupakan kemenangan Jepang secara taktis dalam hal tidak ada kehilangan kapal, tetapi Jepang kehilangan 99 pesawat, dan yang paling penting antara 400 hingga 500 orang tewas.Kehilangan bagi AL Jepang adalah 148 air crew termasuk lima pemimpin skuadron dan 18 kepala seksi. Jepang tidak dapat lagi kehilangan orang terlatih lagi semacam ini. Bomber torpedo Jepang kehilangan 40% dari total aircrew di empat kapal induk, dengan 39% awak dive bomber dan 20% pilot fighter.

Kehilangan aircrew di Santa Cruz ini jika dikombinasikan dengan kehilangan pada pertempuran sebelumnya di Laut Coral, Midway dan Solomon Timur total 61 tewas dan kehilangan 409 dari 765 aviator kapal induk Jepang elit yang berpartisipasi pada penyerangan Pearl Harbor. Setelah Pertempuran Santa Cruz, Zuikaku dan Hiyo perlu kembali ke Jepang karena tidak memiliki cukup pilot dan mekanis. Setelah kembali ke Jepang, Admiral Nagumo dibebastugaskan dari komando. Empat kapal induk melawan kapal induk Amerika telah menghancurkan air crew veteran, memicu kebangkitan pilot bunuh diri “kamikaze”.

Pertempuran Attu, Alaska

Pertempuran ini dianggap sebagai “Forgotten Battle” pada PD II. Rantai kepulauan di Alaska merupakan bagian dunia yang dingin dan suram. Awak yang tinggal di tempat semacam ini harus berjuang dengan keadaan alam yang buruk baik untuk awak maupun mesin. Akan tetapi, awak AS menjadikan tempat ini menjadi rumah mereka untuk beberapa waktu, untuk memastikan Aleutians tetap menjadi posisi strategis bagi militer AS di Pasifik Utara. Pada Mei 1943, Shokaku ditugaskan untuk menyerang posisi sekutu di kepulauan Aleutian tetapi invasi ini kemudian dibatalkan setelah Sekutu menang dan membunuh sekitar 4,350 pasukan Jepang, tujuh kapal perang dan enam kapal transpor pasukan.

Shukaku yang terkena hantaman bom (Foto: www.militaryfactory.com)

Pertempuran Laut Filipina

Untuk keseimbangan pada 1943, Shokaku tinggal di Truk. Pada 1944, dia berpangkalan di Kepulauan Lingga, di sebelah selatan Singapore. Shokaku berlayar dengan Mobile Fleet untuk Operation A-Go pada 15 Juni 1944. Operasi ini merupakan serangan balasan pada Sekutu di Kepulauan Mariana. Pertempuran Laut Filipina menjadi pertempuran kapal induk terbesar pada masa PD II. Armada Kelima AS, TF-58, yang terdiri dari 15 kapal induk dengan 956 pesawat, 7 battleship, 79 cruiser dan destroyer ditambah 28 kapal induk. Armada Jepang mengirimkan 9 kapal induk dengan 450 pesawat berbasis kapal induk, 5 battleship, 43 cruiser dan destroyer dan 300 pesawat berbasis daratan. Pertempuran besar antara AL AS dan Jepang akan berlangsung. Jepang selalu menginginkan pertempuran dengan menggunakan meriam mereka dengan Amerika, tetapi hal ini tidak pernah terjadi hingga titik ini.

Pada 12 Juni 1944, pesawat dari kapal induk AS menyerang Mariana. Komandan IJN Admiral Toyoda menerima berita dan yakin bahwa AS telah bersiap-siap untuk menginvasi. Toyoda mengharapkan target Amerika selanjutnya adalah Carolina dan komando tinggi Jepang hanya memiliki kekuatan minimal di Mariana untuk memukul mundur serangan cemacam itu. Pada 13 Juni, kapal perang AS mulai membombardir untuk menginvasi saipan. Sekarang Toyoda tidak mempunyai pilihan dan memerintahkan sebuah armada untuk melakukan serangan balasan. Pertempuran Laut Filipina, yang juga disebut sebagai “Battle for the Marianas” oleh IJN telah dimulai. Kapal selam AS mulai memonitor armada Jepang pada 15 Juni. Di hari berikutnya, Admiral Raymond Spruance, komandan dari 5th Fleet AS, menduga bahwa IJN telah bergerak ke Mariana untuk melakukan serangan balik pasukan invasi Saipan. Pada 18 Juni, Vice Admiral Marc Mitscher, di atas flagship-nya USS Lexington, menempatkan Task Force 58, Fast Carrier Task Force, pada posisi siaga perang untuk melindungi pasukan amfibi di dekat Saipan dari serangan Jepang.

Shokaku dan sister carriers-nya meluncurkan pesawatnya pertama kali, pada 19 Juni 1944 sekitar pukul 5 pagi bersama dengan pesawat AD termasuk “Zeros” dari Guam. Pagi itu mulai menjadi buruk bagi pesawat Jepang ketika grup besar pesawat fighter Amerika Grumman F6F Hellcat menembak jatuh 35 pesawat Jepang di dalam jarak pandang kapal dari TF-58. Pada pukul 10, radar dari kapal TF-58 mendeteksi 68 pesawat Jepang, 150 mil dari armada tersebut. TF-58 meluncurkan seluruh pesawat fighternya dan bertemu dengan pesawat IJN pada 70 mil jauhnya dari Armada pada pukul 10.30 dan dengan cepat menembak jatuh 25 pesawat Jepang. Pada perjalanan pulang ke kapal induk IJN, 16 pesawat lagi ditembak jatuh dengan kehilangan hanya satu Hellcat. Laporan setelah pertempuran menyebutkan bahwa penyebab mudah dikalahkannya pesawat Jepang karena rendahnya kualitas terbang (pilot).

Pada pukul 11.07, gelombang yang lebih besar sebanyak 109 pesawat terdeteksi radar dan beberapa melewati perimeter perlindungan, menyerang tiga kapal indruk TF-58. Tidak ada yang berhasil melakukan tembakan langsung dan 97 dari 109 pesawat ditembak jatuh. Gelombang ketiga sebanyak 47 pesawat datang dan 7 di antaranya tertembak jatuh, sisanya mundur kembali ke Guam. Gelombang empat dengan 49 pesawat datang, 8 di antaranya tertembak jatuh ketika menyerang kapal induk. Karena kekurangan bahan bakar, mereka kembali ke Guam untuk diisi bahan bakarnya, dan diserang oleh 27 Hellcat. 30 pesawat jepang ditembak jatuh dan sisanya mengalami kerusakan. Thirty Japanese aircraft were downed with rest damaged. Satu pilot Hellcat dikutip dari perkataanya “Hell, this is like an old-time turkey shoot!”. Pada berita, pertempuran yang dimenangkan secara sepihak oleh AS ini, dijuluki dengan “The Great Marianas Turkey Shoot”.

Sekitar 200 mil dari kapal induk AS milik TF-58, tiga kapal induk garis-depan Jepang, Taiho, Zuikaku, dan Shokaku – berlayar dalam formasi dan siap untuk meluncurkan serangan udara ke arah Kapal Induk AS. Zuikaku berada di depan, Taiho di sisi kiri dan Shokaku di sebelah kanan dengan formasi mata panah. Di atas kapal induk, para awak masih berharap memperoleh kemenangan besar terhadap AL AS.

Kapal selam AS USS Albacore mengikuti flagship kapal induk milik Admiral Ozawa, Taiho. Destroyer pelindung tidak mendeteksi adanya kapal selam ini, membuatnya dapat bergerak menuju posisi tembak. Dua “fish” (torpedo) ditembakkan dengan salah satunya mengenai bagian depan kapal induk. Awak taiho awalnya merasa bahwa kerusakannya tidak terlalu parah karenahampir tidak adanya asap yang terlihat. Tanpa diketahui mereka, asap uap bahan bakar bergerak di bawah dek dan pembakaran dapat menyebabkan kerusakan fatal. Sekitar dua jam kemudian, USS Cavalla sampai di bagian selatan armada Jepang dan melihat Shokaku sedang mendaratkan pesawatnya. Taiho terlihat tidak berasap dari jauh, akan tetapi uap bahan bakarnya meningkat di bawah dek.

Cavalla bergerak ke posisi, memperhatikan pelindung kapal induk dari dekat. Skipper kapal selam Cavalla, Lt. Comdr. Herman Kossler, mengkalkulasikan kecepatan dan jalur Shokaku sementara melihat destroyer bergerak di sebelah kanannya. Dia memperhatikan destroyer untuk adanya indikasi apakah kapal tersebut sudah melihat posisi kapal selamnya, tetapi tidak ada indikasi sama sekali. Kossler perlahan menggerakkan periskopnya ke Barat Laut untuk mengamati dua cruiser yang bergerak di sebelah kiri Shukaku. Kossler tersenyum dan berfikir betapa beruntungnya dia untuk melakukan tembakan hebat. Pada jarak 1,200 yard Cavalla menembakkan enam torpedo kuat ke pada sisi kanan Shukaku. Pada momen terakhir, pukul 11.20, pengintai Shukaku melihat torpedo di sebelah kanan bow, tetapi terlalu terlambat bagi Captain Matsubara untuk bereaksi dan menghindar dari torpedo walaupun dia telah memerintahkannya. Tiga atau empat torpedo menembus kapal. Semua torpedo menghancurkan, tetapi lagi seperti taiho, kerusakannya tidak terlihat fatal bagi awak di atasnya. Semua torpedo mengenai bagian tengah hingga depan kapal. Torpedo yang mengenai bagian bawah island mengoyak garis gas AV dan menghasilkan semburan api pada dek penerbangan dan hangar. Beberapa pesawat yang mendarat diselimuti api dan pesawat yang sedang diisi bahan bakarnya mulai meledak. Ledakannya merusak elevator pesawat dan beberapa jatuh dari dek penerbangan dengan banyak orang jatuh langsung ke api di bawahnya.

Bahan bakar tersembur ke amunisi dan mulai meledak, mengubah hangar menjadi sebuah neraka. Ledakan bom dan tangki bahan bakar pesawat menambah kebakaran hebat, membunuh manusia yang berusaha memadamkannya. Bagian tubuh yang terbakar terlihat jelas di atas dek. Sebuah torpodo meledak pada lubang ruang pendidih dan membanjiri kapal. Kebocoran dan kebakaran adalah skenario buruk di atas kapal, membutuhkan awak spesial untuk menanganinya. Shokaku mulai melambat dan keluar dari formasi. Dia mulai miring ke kanan. Terdapat kepanikan kecil pada awak yang sudah berpengalaman menyelamatkan kapal ini dua kali sebelumnya. Perintah datang dari bridge untuk mengatasi kebocoran, tetapi kebocoran ini memaksa kapal miring ke kiri daripada kembali ke garis tengah. Tak lama kemudian Shokaku pun mulai tenggelam.

Kebakaran pada hangar tidak dipadamkan dan diluar kendali. Banyak rangkaian listrik yang gagal segera setelah hantaman torpedo. Amunisi meledak dan tanpa kekuatan, pompa depan tidak berfungsi. Tim pengendali kerusakan berpengalaman menggunakan seluruh peralatan pemadam kebakaran yang ada, dari pemadam tangan hingga “bucket brigades” untuk mengontrol kebakaran. Orang-orang pemberani yang mengadapi panas dan kebakaran ekstrim dengan ledakan bom dan torpedo. Jika tenaga dapat diperoleh kembali, kemungkinan ada harapan untuk menghidupkan pompa, tetapi hal ini tidak terjadi. Kontrol kerusakan membuat beberapa perkembangan dengan kebakaran utama yang terpusat pada bagian depan dan tengah kapal. Tetapi ledakan amunisi yang bercampur dengan kebocoran gas menggagalkan semua usaha keras mereka.

Pada pukul 1 siang, intensitas kebakaran pada Shokaku menjadi neraka dan sekarang terlihat jelas pada dek penerbangan, datang dari sumur elevator dek hangar. Kapal pelindungnya sekarang dapat melihat dua kapal induknya terbakar. Kapten Matsubara tau semua usaha telah dilakukan oleh awaknya. Perintah diberikan untuk meninggalkan kapal. Segera ratusan orang berkumpul di bagian belakang kapal. Beberapa tidak menunggu dan terjun ke laut, bergabung dengan yang sudah jatuh sebelumnya. Ketika orang-orang menunggu di belakang dek menunggu perintah, bom terus meledak di dalam kapal. Bagaimana orang-orang ini dapat terus berdiri di atas dek sementara kapal hancur di antara mereka, kita tidak akan pernah tau. Tiba-tiba, lima ledakan besar mengguncang kapal dari bawah dek. Buritan kapal dengan cepat terangkat karena air yang membanjiri baian depan kapal. Orang-orang di bagian belakang dek terkejut dan terjatuh, kemudian meluncur ke bagian depan dek.

Kapal terus tenggelam dengan bagian depan di bawah, sekarang buritan tegak lurus dengan air. Terbakar dan meledak, kapal ini tenggelam ke kedalaman. Awak yang berada di air melihat Shokaku yang agung ternggelam dan beberapa menyanyikan nyanyian kapal dengan kepedihan mendalam ketika kapal ini menghilang pada pukul 2.12 siang. Kapal pengawal Shokaku menyelamatkan awak yang ditemui dan destroyer IJN menjatuhkan bom laut pada kemungkinan posisi USS Cavalla untuk tiga jam mendatang. Awak kapal induk menghitung sebanyak 106 bom laut, tetapi but Cavalla berhasil kabur. Dari 1.660 awak Shokaku, 1.263 di antaranya tenggelam bersama kapal, terdiri dari 887 opsir dan 376 orang dari Air Group 601.

AL AS tidak kehilangan satu kapal pun dan 123 pesawat hilang terutama pada pendaratan malam hari. 80 awak diselamatkan oleh kapal selam. IJN kehilangan tiga kapal induk dan tiga kapal perang lainnya rusak. Pilot Jepang yang tidak berpengalaman kehilangan 433 pesawat berbasis kapal induk dengan 130 di antaranya hancur ketika kapal induknya tenggelam. Sebagai tambahan, 200 pesawat berbasis darat juga tertembak jatuh selama pertempuran.

Kehilangan pesawat dan pilot menghancurkan armada kapal induk IJN, mereka tidak pernah kembali seperti masa jayanya pada saat PD II.

3-view IJN Shukaku (gambar: www.the-blueprints.com)

Spesifikasi IJN Shokaku 

Dimensi:
Panjang: 845 kaki (257.56m)
Beam: 85 kaki (25.91m)
Draught: 29 kaki (8.84m)

Performa:
Kecepatan Permukaan: 34.2kts (39mph)
Jarak: 11,184miles (17,999km)

Persenjataan:
16 x meriam anti-pesawat Type 98 5-inch (127mm)
70 x meriam anti pesawat Type 96 25mm

Struktur:
Awak: 1,660
Bobot Mati: 25,675ton

Mesin:
Mesin: Turbin bergigi Kanpon menghasilkan 160,000 horsepower; 4 x screws.

Air Arm:
Antara 72 hingga 84 pesawat termasuk 18 Mitsubishi A6M “Zeros”, 27 Aichi D3A “Vals” dan 27 Nakajima B5N “Kates”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *