F-16 Armament, Bag. 1

F-16 Armament
Weapons, Targeting/Navigation Pods, and External Stores

1. AGM-65 Maverick
Air-to-ground missile

Introduction


AGM-65 Maverick adalah tactical, air-to-surface, infra-red atau electro-optically guided missile. Meskipun pada awalnya digunakan dalam misi Close Air Support. Maverick juga efektif untuk anti-armor, SEAD dan interdiction. Unit cost berkisar dari $48,000 (A-model) sampai $269,000 untuk yang G-model (FY 1999).

History


Program AGM-65 Maverick disetujui pada tahun 1965, setelah melihat kinerja yang menyedihkan dari missile command-guided Bullpup di Vietnam, tugas produksi ke Honeywell terjadi pada bulan Juni 1968, setelah adanya kompetisi dengan Rockwell. Fitur utama dari desain ini mencakup compact dimensions, yang dapat digunakan untuk multiple carriage/pengangkutan ganda, autonomous guidance system/sistem pemandu autonomous, dan high Pk (Probability of Kill/kemungkinan membunug yang tinggi). Unguided flight dimulai pada bulan September 1969, dan AGM-65A Mavericks telah diluncurkan pada semua ketinggian hingga ke level treetop.

The last moments in the life of an M113 APC, before being hit by an AGM-65 Maverick. (USAF Photo)

Selama 1221 penembakan pertama, Maverick menunjukan hit rate/tingkat kesuksesan sampai 86% dan rata-rata miss-distance terhadap target yang berukuran tank hanya 3ft (0.91m). Batch produksi awalnya adalah 17.000 round yang selesai pada tahun 1975, setelah itu produksi untuk versi selanjutnya dilanjutkan dengan peningkatan produksi yang menurun. AGM-65B telah diproduksi dari bulan Mei 1980 sampai bulan Mei 1984, dan total produksi versi A/B mencapai 31.022 rounds. Tingkat produksi versi B yang paling tinggi adalah 200 unit missile perbulan. Penerbangan pengujian untuk AGM-65C dimulai pada bulan Januari 1977 dengan menggunakan Rockwell tri-service seeker head. Pada bulan Mei 1977, rekayasa pengembangan AGM-65D dimulai. IIR (Imaging Infra Red) jauh lebih mahal daripada versi Maverick sebelumnya, tetapi jarak untuk mengunci target jauh lebih besar. AGM-65D pertama kali diuji di Eropa pada bulan Januari sampai Maret 1978, dan pesawat yang membawanya adalah F-4. C model digantikan oleh AGM-65E, meskipun yang terakhir ini mengalami keterlambatan yang serius dengan laser seeker.

Construction


Missile pada dasarnya memiliki 4 low-aspect ratio delta wings (aspek rasio yang rendah), 4 tail controls located immediately behind the wings (ekor kontrol yang terletak tepat dibelakang sayap), dan a dual-thrust solid motor (daya dorong solid motor ganda). Standar AGM 65 A memiliki warhead/hulu ledak 130lb (59kg) sementara yang lebih berat 250lb (113kg) Mk.19 blast/fragmentation warhead dapat dipasang misalnya pada C dan D model untuk digunakan pada target kapa-kapal yang kecil atau target yang berada ditanah/ land target. Warhead Mk.19 memerlukan peningkatan panjang sampai 4in (102mm). AGM-65 E/G dilengkapi dengan penetrator warhead, beratnya mengesankan hingga 300lb (136kg). pada bulan Desember 1986, angkatan udara juga sempat diduga memasang warhead dengan nuklir di Maverick.

Key to Drawing :
1. Dome cover
2. Missile electronics
3. Safe arm fuzing
4. Thermal Battery
5. Flight control surface on a hydraulical actuator system
6. Booster-Sustain solod rocket motor
7. Forward firing shaped charge jet and blast warhead
8. TV seeker (65A and 65B)
9. IR Seeker (65D)

Warhead ini diletakkan di belakang seeker, tetapi kemudian digabungkan dengan tunnel agar dapat dilalui hot gasses dengan bebas (yang dihasilkan oleh explosion of the charge/beban ledakan). penetrator warhead AGM 65 F dilengkapi dengan selectable fuzing, yang dapat disetting untuk meledak ketika terjadinya impact/benturan atau setelah penetrasi.

Versions

View of the destroyer USS Bagley through the IIR seeker of an AGM-65F; on top, at the limit of the pilot’s visual range, and bottom, at the terminal homing stage. (USNavy photo)

AGM-65A
Model standar menyediakan simple TV guidance (dengan seeker logic yang mampu membedakan pada contrast) dan membutuhkan peluncuran dengan kondisi yang menguntungkan dan aman. Visibilitas yang kurang sempurna atau overwater glint (kilatan melalui jalan laut) dapat merusak lock A model. Optical seeker AGM-65 A meliputi 5 derajat kerucut didepan missile – kira-kira setara dengan lensa 200 mm pada kamera standar 30 mm.

AGM-65B
AGM-65B Scene – Magnification Maverick menyediakan new optic, gimbal mount yang lebih kuat dan perbaikan elektronik. New optic ini menyediakan magnification yang lebih besar (2.5 derajat kerucut setara dengan lensa kamera 35 mm), sehingga pilot dapat mencari target dengan seeker missile dan mendeteksi dengan jangkauan yang lebih besar dibandingkan dengan Mark 1 eyeball.

AGM-65C
AGM-65C Laser Maverick secara khusus dirancang untuk digunakan dalam role Close Air Support dan juga laser-designated target/menetapkan target dengan laser. Laser designator dapat digunakan baik didarat maupun diudara, misalnya infantry ILS-NT200, airborne Pave Knife, Pave Penny, Pave Spike, Pave Tack ataupun non-US system lainnya seperti Atlis-pod Perancis yang digunakan pada F-16 Pakistan. Dengan menggunakan frekwensi penerangan yang berbeda(different illuminating frequencies) untuk target yang berbeda agar dapat menggunakan ripple-fire multiple missiles pada beberapa target.

AGM-65D
AGM-65D Infra Red Maverick menggunakan Hughes tri-service IIR (Imaging Infra Red) seeker head, yang dapat membantu sensor pada pesawat yang menggunakan FLIR atau laser pod. Hal ini dapat memungkinkan Maverick untuk melock target setidaknya dua kali jangkauan dibarat laut Eropa dalam cuaca yang buruk, karena IR wavelengths (panjang gelombang Infra Red) dapat melemah di clear air. AGM-65D adalah standar Maverick untuk digunakan dalam kombinasi dengan LANTIRN targeting and navigation pod. Selain itu, IR seeker juga membantu Maverick bekerja sekitar 1 jam.

AGM-65E
The AGM-65E memiliki penetrator warhead yang lebih besar yaitu 300lb.

AGM-65F
AGM-65F digunakan oleh US Navy dan hampir identik dengan AGM-65D, kecuali AGM-65F memiliki warhead yang lebih besar yaitu 300lb lebih besar dari AGM-65E dan guidance software yang dimodifikasi agar dapat memberikan kemampuan optimum homing terhadap target yang berlayar dilaut.

AGM-65G
AGM-65G digunakan oleh USAF dan memiliki IIR seeker dan warhead 300lb.

F-16 Installation

F-16XL, armed with 6 AGM-65 Mavericks and 2 AIM-9 Sidewinders, launching a Maverick. (Photo by Erwin Boone)

Maverick ini dapat dibawa oleh berbagai macam pesawat, mulai dari pesawat tempur seperti A-10 dan F-16 sampai BGM-34 RPV, bahkan triple clusters or singly (F-5 dan BGM-34 misalnya). Konfigurasi triplet membutuhkan penggunaan LAU-88/A or LAU-88A/A launchers, sedangkan LAU-117/A adalah single-rail launcher. Versi modifikasi LAU-88/A biasanya dipasang untuk pesawat yang mempunyai kinerja yang tinggi, menyediakan reduced-drag fairing/pengurangan drag tembakan (sebanyak 45-60% dalam penerbangan tertentu). Modifikasi LAU-88/A lainnya dapat digunakan untuk pengujian three-round load seperti single assembly, boresighting semua missile ke piper dan membantu seeker head missile ke head missile lainnya.

F-16 Loadout
LAU-88 triplet launchers hanya dapat dipasang ke nr. 3 dan 7 station, sedangkan LAU-117/A dapat dipasang ke nr. 3,4,6 dan 7 station. F-16XL adalah pengecualian : untuk meminimalisir drag yang membawa 6 missile pada LAU-117A single-missile launchers.

Aiming and Firing

Firing Sequence of an AGM-65 Maverick (USAF photo)

Pilot memilih missile (yang dimaksud disini adalah AGM-65), akan menyebabkan gyro menaikkan kecepatan dan menyalakan cockpit indicator. Kemudian pilot memperoleh visual target, menekan uncage switch/pelepasan saklar (yang berarti missiles seeker diaktifkan untuk mencari target) dan mengaktifkan video circuitry. TV picture (seperti yang terlihat pada sistem video missile) muncul sekaligus pada bright display di cockpit, dan kemudian pilot memilih salah satu slews the video seeker in the missile (membelokan video seeker dimissile) atau lines up the target (menuju target langsung) di head-up-display. Pilot menekan track switch (saklar pelacakan), kemudian menunggu sampai target sejajar dengan garis bidik (crosshairs) di TV display atau HUD, melepaskan switch dan menembakannya. Onboard image-processor of the missile analyses the high-contrast areas of the image untuk merasakan gerakan relatif dan menghasilkan perbaikan signal guidance untuk menjaga missile agar selaras dengan target.

Kelemahan utama model A adalah jangkauannya yang terbatas dimana TV-seeker harus melock target, meskipun missile tersebut memiliki jangkauan hingga 7nm (13km) dalam situasi yang terburuk. Redaman pada optical wavelengths membatasi lock on target sekitar 3nm (5.5km). Selain itu, AGM-65A membutuhkan 4-8 detik untuk melock target.

The effective range of the AGM-65 Maverick greatly varies with the launch altitude and the speed of the launching aircraft.

Model-model lainnya menyediakan infrared targeting (AGM-65D) atau laser-homing (AGM-65C). Pada pesawat yang dilengkapi dengan LANTIRN, FliR-pod of the LANTIRN system dapat membantu Maverick, dan tentu saja LANTIRN dapat menandai target dengan dengan laser untuk Maverick.

Operational Use

Maverick ini digunakan pada perang Yom Kippur tahun 1973 dengan efek yang bagus, meskipun harus dengan kondisi yang ideal.

Selama operasi Desert Storm, lebih dari 5.000 missile Maverick telah ditembakan, terutama dari pesawat A-10 dan F-16.

AGM-65’s expended during Desert Storm

Specifications :

Primary Function : Air-to-Ground tactical missile
Contractor : Hughes Aircraft Co.
Power Plant : Thiokol boost/sustain solid motor TX-481. Later replaced by the reduced-smoke TX-633 engine.
Length : 98 inches (2,489mm)
Launch Weight : 65A: 463 pounds (210kg), 65E blast/frag 635lb (288kg), 65E 677lb (307kg), 65D 485lb (220kg)
Diameter : 12 inches (305mm)
Wingspan : 28.3 inches (719m)
Range : 0.6-10 miles (1-16 km)
Speed : Supersonic
Guidance System : optical, IIR or laser
Warhead : Chamberlain shaped charge (83lb / 37.6kg) or Avco steel-case penetrator blast/frag
Unit Cost : USD $48,000 (A model), $64,100 (B), $110,000 (C), $111,000 (D), $101,000 (E) and $269,000 (G) (FY 1999).

2. AGM-84 Harpoon
Anti-ship missile

Introduction


AGM-84 Harpoon adalah missile all weather/segala cuaca, over-the-horizon, anti-shipping missile system yang diproduksi oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing). Missile tersebut low-level, sea-skimming cruise capability, active radar guidance dan desain warhead yang menjamin survivabilitas tinggi dan efektif. Missile ini mampu diluncurkan dari pesawat terbang, kapal permukaan, kapal selam dan shore batteries.
Kombinasi Harpoon dengan F-16 digunakan sebagai anti-shipping platform oleh sejumlah pelanggan internasional F-16.

History

USAF F-16C block 40 #87353 carrying an AGM-84 ‘Harpoon’ all-weather anti-ship missile for trial purposes on May 1st, 1992.

Setelah tenggelamnya kapal destroyer Eilatat Israel ditahun 1967 oleh anti-ship missile yang dibangun oleh Soviet. US Navy melihat akan kebutuhan untuk mengembangkan anti-shipping missile. Nama Harpoon ditunjuk untuk proyek ini, yang merupakan perumpamaan Harpoon/tombak yang membunuh “whales/paus”, sebuah istilah kapal selam dalam angkatan laut, meskipun misi utama Harpoon adalah surface ship attack.
Pengembangan proyek secara resmi dimulai pada tahun 1968, dan missile ini disebut dengan ZAGM-84 pada tahun 1970. Angkatan laut secara resmi mengeluarkan RfP (Request For Proposals), dan dibulan Juni 1971 McDonnell-Douglas mendapatkan kontrak utama dalam proyek Harpoon ini. Tes penerbangan pertama missile ini terjadi pada bulan Oktober 1972.

A/R/UGM-84 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977, dan pada tahun 1979 versi air-launched diluncurkan pertama kali pada pesawat P-3C Orion, Harpoon ini juga dapat diadaptasi untuk digunakan pada B-52H dan F-16, dan saat ini sedang diintegrasikan pada pesawat F-15 (USAF hanya menggunakan Harpoon pada pesawat B-52H bomber, dan integrasi pada pesawat F-15/F-16 hanya digunakan oleh pelanggan selain US), missile Harpoon juga dapat diluncurkan dari kapal selam.

Berdasarkan perjanjian pada tahun 1998, antara Boeing dan US Navy, upgrade canggih untuk missile Harpoon harus dikembangkan. Missile Harpoon Block II ini digabungkan dengan Global Positioning System [GPS] yang akan membantu inertial navigation, yang akan memberikan kemampuan baik untuk anti-ship maupun land attack capability.

Construction


Bagian guidance terdiri dari active radar seeker dan radome, Missile Guidance Unit (MGU), radar altimeter dan antenna, dan power converter. MGU terdiri dari three-axis attitude reference assembly (ARA) dan digital computer/power supply (DC/PS). Sebelum peluncuran DC/PS diinisialisasikan dengan data oleh Command Launch System. Setelah peluncuran DC/PS menggunakan data akselerasi missile (missile acceleration data) dari ARA dan altitude data dari radar altimeter untuk mempertahankan missile pada profil penerbangan yang diprogramkan (programmed flight profile). Setelah akuisisi target oleh seeker, DC/PS menggunakan seeker data untuk membimbing missile ke target.

Bagian warhead terdiri dari target-penetrating, load-carrying steel structure, yang berisi 215 pound high explosive (DESTEX) dan safe-and-arm/contact fuze assembly. Safe-and-arm/contact fuze assembly memastikan warhead tidak akan meledak sampai missile diluncurkan. Hal tersebut dirancang untuk meledakan warhead setelah missile terbentur dengan target. Bagian warhead dapat digantikan dengan exercise section, yang mentransmisikan data kinerja missile untuk pengumpulan dan analisisi (collection and analysis).

Bagian sustainer terdiri dari fuel tank dengan JP-10 fuel, air inlet duct dan jet engine. Hal tersebut memberikan missile dorongan kekuatan penerbangannya yang berkelanjutan. Bagian sustainer memiliki f4 fixed fins/sirip tetap, yang memberikan daya angkat.

Bagian control terdiri dari 4 electromechanical actuators yang menggunakan signal dari bagian guidance untuk mengubah 4 fins, yang mengkontrol gerakan missile.

Bagian booster terdiri dari solid fuel rocket dan arming dan firing device. Platform kapal permukaan dan kapal selam menggunakan booster untuk meluncurkan Harpoon dan mendorong kecepatan missle yang terbang secara berkelanjutan agar mencapai target. Bagian booster terpisah dari missile sebelum dimulainya penerbangan berkelanjutan.

Versions

AGM-84A, RGM-84A, UGM-84A

Ini adalah versi pertama missile Harpoon yang mulai kembali dalam layanan tahun 1977, yang ditugaskan pertama adalah RGM-84A dengan jangkauan 90 km (50 nm). Ditahun 1979 AGM-84A yang diikuti suite diperkenalkan pada pesawat P-3 Orion. Yang terakhir dalam jangkauan missile ini adalah kapal selam yang meluncurkan UGM-84A yang mulai beroperasi pada tahun 1981.

Varian Harpoon untuk kapal selam yang terkandung didalam capsule dan yang disebut ENCAP standing untuk dienkapulasi. ENCAP adalah ukuran yang sama dan bentuk umum blunt nosed torpedo (torpedo yang berhidung tumpul) dan diluncurkan dari kapal selam melalui tabung torpedo, memiliki positive buoyancy/daya apung yang positif (mengapung), maka pada saat dikeluarkan dari kapal selam, missile tersebut akan naik kepermukaan tanpa power.

ENCAP terdiri dari nose cap, main body dan after body. Missile tersebut berada pada on shock isolator rails dalam main body. After body memiliki fins yang mengarahkan ENCAP menuju permukaan pada sudut yang tepat untuk peluncuran missile. Setelah ENCAP menembus kepermukaan, small rocket akan menghembuskan nose cap dan missile dan missile diluncurkan dari tabung.

AGM-84B, RGM-84B, UGM-84B
UGM-84B adalah standar dari UGM-84B yang telah dibangun untuk digunakan oleh Royal Navy. Satu-satunya perbedaan antara 2 missile tersebut adalah versi B memiliki ketinggi jelajah sedikit lebih rendah, meskipun demikian AGM-84B dan RGM-84B sebutan mana yang dialokasikan, tidak ada missile seperti ini yang pernah dibangun.

AGM-84C, RGM-84C, UGM-84C (Block 1B)
Versi ini pertama kali diperkenalkan dengan US Nacy ditahun 1982. Versi tersebut mempertahankan ketinggian jelajah lebih rendah dari versi B dan menambahkan sea-skimming flight profile tidak akan muncul sebelum terjadi benturan. Hal tersebut membuat missile ini sulit dideteksi.

AGM-84D, RGM-84D, UGM-84D (Block 1C)

HAF F-16C block 50 #93-1045 is seen here still wearing the ED titles and USAF serials when part of the 412th TW in May of 1997. Note the AGM-84 Harpoon missile under the wings showing that this weapon at least was tested on these Greek vipers.


AGM-84D pertama kali diperkenalkan pada tahun 1985. Menyediakan jangkauan yang lebih luas 220 km (120 nm) dan JP-10 fuel dan bukan JP-6 fuel. Belajar dari pengalam dari model sebelumnya, terminal attack mode dibuat untuk dapat memilih untuk menyertakan a pop-up atau sea-skimming profile. Selain itu missile diberikan kemampuan untuk kapal yang dilengkapi dengan AN/SWG-1A Fire Control System yang dapat memprogram beberapa way-points kedalam jalur penerbangan missile sebelum peluncuran sehingga missile akan terbang dengan jalur yang tidak langsung (indirect path) ke area target dan dengan demikian dapat menyembunyikan posisi kapal yang meluncurkannya.

AGM-84E, RGM-84E (Block 1E) / SLAM [Stand-Off Land Attack Missile]

AGM-84E Harpoon/SLAM [Stand-Off Land Attack Missile] adalah an intermediate range weapon system (system senjata dengan jangkauan menengah) yang dirancang untuk memberikan kemampuan day, night and adverse weather precision strike terhadap high value land based assets (asset yang memiliki nilai tinggi yang berbasis di daratan) dan shipping. Versi ini terisi diakhir tahun 1980-an yang membutuhkan untuk land-attack missile. Daripada desain awal yang sebelumnya US Navy mengambil sebagian besar Harpoon yang ada – tidak termasuk bagian guidance dan seeker – dan menambahkan Global Positioning System receiver, Walleye optical guidance system dan data-link Maverick untuk membuat Stand-off Land Attack Missile (SLAM).
AGM-84E menggunakan inertial navigation system dengan GPS, infrared terminal guidance, dan dilengkapi dengan warhead Tomahawk untuk penetrasi yang lebih baik. SLAM dapat diluncurkan dari darat atau kapal induk yang menjadi basis pesawat F/A-18 Hornet, bekerja dengan sukses dalam operasi Desert Storm dan operasi bantuan UN di Bosnia sebelum operasi Joint Endeavor.
Kapal diproyeksikan untuk dapat meluncurkan RGM-84E yang telah diuji, tapi tak pernah melewati tahap perkembangan.

AGM-84F, RGM-84F (Block 1D)
Versi Block 1D yang menampilkan fuel tank yang lebih besar dan kemampuan reattack yang telah dikembangkan ditahun 1991. Dengan ancaman yang berkurang karena pecahnya Uni Soviet, upgrade ini ditangguhkan ditahun 1993 dan tidak pernah diproduksi.

AGM-84G, RGM-84G, UGM-84G (Block 1G)
Versi missile Harpoon AGM-84G, RGM-84G dan UGM-84G diupgrade ke D-model (Block 1C) yang memiliki kemampuan reattack F-model (Block 1D) yang telah dibatalkan, dan juga memiliki kemampuan ECCM. Missile G-model akan diperoleh dari pembangunan kembali missile D-model yang lebih tua.

AGM-84H (Block 1F) / SLAM-ER (Expanded Response)
SLAM-ER (Expanded Response) adalah major upgrade untuk missile SLAM yang saat ini dalam produksi. Missile tersebut menyediakan 2 kali jangkauan, kemampuan target penetration capability dan control range of SLAM. SLAM-ER memiliki jangkauan yang lebih besar (150+ miles), warhead titanium untuk peningkatan penetrasi dan peningkatan softwere yang memungkinkan pilot untuk dapat retarget impact point missile selama terminal phase of attack (sekitar 5 mil terakhir). Selain itu banyak ekspansi yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja, survivability, mission planning, dan pilot (man-in-the-loop) interface.
Kontrak pengembangan SLAM-ER diberikan kepada McDonnell Douglas Aerospace (sekarang Boeing) dibulan Februari 1995. SLAM-ER melakukan penerbangan pertamanya pada bulan Maret 1997. Semua missile SLAM angkatan laut akan diretrofit ke konfigurasi SLAM-ER. Sekitar 500 missile SLAM akan dikonversi ke konfigurasi SLAM-ER antara FY 1997 dan FY 2001.

RGM-84J
Sebutan ini ditujukan ke peningkatan “Harpoon 2000” yang kemudian berkembang menjadi Block 2. Tidak ada pesanan untuk pengembangan dan kemudian proyek ini dihentikan.

AGM-84K (Block 1F)
Versi ini merupakan peningkatan AGM-84H yang sebelumnya. H-model akan dikonfersi ke standar new SLAM-ER.

AGM-84H / SLAM-ER ATA (Automatic Target Acquisition)
SLAM-ATA (Automatic Target Acquisition) adalah perangkat tambahan follow-on untuk SLAM-ER dengan kemampuan reattack dan new seeker, telah diisi ditahun 2002. SLAM-ER dilengkapi dengan ATA yang akan mencocokan seeker images of a target scene dengan on-board reference image. Proses ini akan meningkatkan kemampuan missile tersebut untuk menyerang target diruang yang ramai (cluttered spaces) seperti area perkotaan. Dan juga meningkatkan kemampuan missile-targeting capability dalam keadaan cuaca buruk, counter measure protected environments, dan enable offset aimpoint targeting yang lebih baik. Missile H dan K model yang lebih tua akan diupgrade dengan fungsi yang baru ditahun-tahun selanjutnya.

AGM-84L, RGM-84L (Block 2)
Block 2 merupakan program upgrade untuk meningkatkan kemampuan baseline capability untuk menyerang target diarea yang padat. Upgrade ini didasarkan pada spesifikasi Harpoon saat ini. Block 2 akan menyediakan keakuratan long-range guidance untuk area pantai/coastal, pesisir/littoral, dan blue water shipping targets dengan menggabungkan low cost Global Positioning System/Inertial Navigation System (GPS/INS) dari program Joint Direct Attack Munitions (JDAM) yang sedang dalam tahap pengembangan oleh Boeing.
Antenna GPS dan softwere dari Boeing’s Stand off Land Attack Missile (SLAM) dan SLAM Expanded Response (SLAM ER) akan diintegrasikan kebagian guidance. Peningkatan kemampuan littoral akan memungkinkan Harpoon Block 2 untuk sampai ke GPS target point yang telah ditentukan. Warhead 500-pound blast yang ada akan memberikan firepower yang mematikan terhadap target land dan sea based target.
Untuk misi anti-ship, GPS/INS memberikan peningkatan missile guidance menuju area target. Accurate navigation solution menyediakan target ship discrimination dari daratan yang terdekat menggunakan shoreline data yang disediakan oleh launch platform. Peningkatan Block 2 ini akan mempertahankan high hit probability Harpoon, sekaligus menyediakan peningkatan 90% separation distance antara hostile thread dan local shorelines. Harpoon Block 2 akan memiliki kemampuan pengembangan yang dapat diluncurkan dari semua platform yang saat ini memiliki Harpoon Missile system dengan menggunakan command dan perlengkapan peluncuran yang ada.

F-16 Installation


Integrasi AGM-84 dengan F-16 memerlukan 2 perubahan utama (i) penambahan Harpoon-specific weapon control algorithms ke Stores Management System, dan (ii) pengembangan interface adapter kit. Interface adaptor pada dasarnya adalah sebuah komponen elektronik yang mengubah weapons control instructions dari F-16 Stores Management System ke intruksi yang dapat diinterprestasikan oleh weapon (yang dimaksud disini adalah Harpoon).

Pekerjaan tersebut dimulai selama operasi Desert Storm di Kore yang menjadi basis pesawat Block 30 USAF. Ada 2 faktor perkembangan aktual yang rumit yaitu interface adaptor dan algorithms. Pertama-tama “heavy stations” (hardpoints 3 dan 7, mampu membawa heavy weapon seperti Harpoon) tidak menyediakan akses ke1553 data bus. Kedua, ada beberapa masalah initial software dengan jet. Untuk menghindari keterbatasan, AGM-65 Maverick interface telah digunakan kembali pada awalnya. Maverick interface tidak memerlukan F-16 SMS untuk melakukan ekstra apapun, karena semua control softwar telah berada di adapter kit. Weapon mode dan targeting semua dipilih pada video yang disediakan sebagai pengganti normal Maverick video.

Seperti Storm wound down, USAF kehilangan minatnya dan upaya awalpun dibatalkan. Proyek ini diambil kembali ketika pelanggan asing F-16 menyatakan minatnya untuk Harpoon tersebut. Pada saat itu, masalah softwere telah terpecahkan, dan Harpoon dapat diintegrasikan. AGM-84 Harpoon secara resmi diselesaikan pada F-16 pada tanggal 11 Agustus 1994.

Semua pesawat F-16 (Block 20, 30/32, 40/42, 50/52, dan 60) dapat dibuat untuk memiliki kemampuan Harpoon. Hal tersebut memerlukan instalasi interface adapter, ditambah instalasi sistem softwere untuk menyupport Harpoon.

F-16 Loadout


Stations 3 dan 7 dapat dipasang kabel untuk membawa single AGM-84.

Operational Use


Hanya beberapa pelanggan F-16 saja yang menggunakan Harpoon pada F-16 mereka :

  • Chile : FACh’s Block 52 memiliki kemampuan Harpoon, tetapi tidak ada missile yang pernah dipesan.
  • Egypt : EAF Block 40 memiliki kemampuan Harpoon dan belum memesan missile ini.
  • Greece : HAF F-16 Block 52 dipersenjatai dengan AGM-84 Harpoons yang telah uji terbang di Edwards AFB.
  • Israel : IDF/AF sangat mungkin memiliki kemampuan Harpoon, tetapi ini belum dikonfirmasi.
  • Oman : RAFO membeli 20 missile ini untuk armada F-16 Block 50 mereka.
  • South Korea : RoKAF Block 52 memiliki kemampuan Harpoon, tetapi belum mengkonfirmasi tentang pembelian missile ini.
  • Taiwan : RoCAF membeli 54 missile untuk F-16 Block 20 mereka.
  • Turkey : TUAF membeli 50 Harpoon untuk upgrade CCIP F-16 Block 50 mereka.
  • United Arab Emirates : UAEAF Block 60 memiliki kemampuan Harpoon dan telah membeli 50 missile pada saat kesepakatan pembelian Block 60 ini.
  • USA : meskipun USAF sempat tertarik menggunakan Harpoon pada F-16 mereka selama operasi Desert Storm dan memulai pekerjaan integrasi ketika Desert Storm wound down. Dan tidak menjadi pelanggan operasional.

Specifications

Primary Function : Anti-ship missile.
Contractor : Naval Weapons Center.
Power Plant : Sustainer : Teledyne/CAE J402-CA-400 turbojet; 3.0 kN (680 lb).
Booster (RGM/UGM-84 only) : A/B44G-2 or -3 solid-fueled rocket; 53 kN (12000 lb) for 2.9 sec.
Length : see table below.
Launch Weight : see table below.
Diameter : 13,5 inches (34,3cm).
Wingspan : see table below.
Range : see table below.
Speed : Mach 0.85.
Warhead : see table below, Blast fragmentation.
Unit Cost : $527,000 (FY 1999).

3. AIM-120 AMRAAM
Advanced Medium Range Air-to-Air Missile

Introduction

AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) adalah day/night/all weather Beyond Visual Range (BVR), fire-and-forget air-to-air missile. Missile tersebut memiliki warhead high-explosive dan mengandalkan radar homing untuk tahap akhir penerbangannya (final stages of flight), yang diluncurkan dengan inertial mid-course guidance dan tanpa perlu pesawat tempur tersebut menerangi target.

Kemampuannya termasuk look-down, shoot-down, multiple launche terhadap beberapa target dan intercept dari jarak yang sangat pendek dalam situasi dogfight.

AIM-120 digunakan oleh beberapa pesawat fixed-wing combat Barat, dan merupakan faktor yang paling menentukan dalam program proses pengadaan di Timur Tengah. Unit costnya sekitar $386.000 (FY 1999).

History

Pada pertengahan tahun 1970-an, sangat diakui bahwa AIM-7 Sparrow memerlukan penggantian pada tahun 1980. Bahkan upgrade AIM-7F/7M menjadi sangat lama, dan program AMRAAM dimulai pada tahun 1976. Program joint USAF/USNavy bertujuan untuk menghasilkan sebuah missile air intercept dengan kinerja yang tinggi, memiliki probilitas kill yang tinggi daripada versi canggih Sparrow, yang dikemas dengan smaller/lebih pendek, lighter/lebih ringan, cheaper/lebih murah, dan lebih handal. Selain itu missile tersebut harus sesuai dengan fire control radar yang ada, dan physically fit.

Proyek penelitian ambisius pun dimulai untuk menyelidiki all-new guidance dan target-detection method, seperti pengklasifikasian target dengan kebisingan aerodynamic/ aerodynamic noise, laser scanning of the external shape, atau decomposition of the engine sound harmonics dalam frequency domain. Tak satupun teknik ini terwujud.

Daftar list dari 5 proposal dipersempit menjadi 2 dibulan Februari 1979. Kedua kontraktor diberikan kontrak masing-masing untuk 10 prototype missile yang mana nantinya akan ditembakan dari F-14, F-15 dan F-16. Diakhir tahun 1981, setelah hanya 6 missile yang ditembakan (masing-masing 3). Hughes Aircraft & Missile Systems Group dipilih daripada Raytheon untuk membangun 94 test missile dengan opsi produksi 924 missile. Program AMRAAM dimasukan kedalam FSD (Full Scale Development) dibulan September 1982, dan uji penembakan missile tersebut dimulai pada tahun yang sama di Holloman AFB dan NAS Pt. Mugu. Fakta bahwa tidak ada mitra Eropa yang mempunyai AMRAAM adalah karena adanya MoU (Memorandum of Understanding) yang ditanda tangani oleh Jerman Barat dan Inggris, AMRAAM ke US dan ASRAAM (Advanced Short Range Air to Air Missile) ke Eropa.

AIM-120 launch sequence by an USAF F-16A. (USAF photo)

Pada tahun 1985, AMRAMM memiliki maslah yang serius : melebihi biaya dan penundaan tidak berarti bahwa tidak ada single test yang ditembakan di hostile ECM-environment sampai bulan Oktober 1986. Pada saat ini, beberapa masalah telah diselesaikan dan low-rate initial production (LRIP)/produksi awal dalam skala rendah telah disetujui pada tahun 1987. Produksi dibagi (under Caesar’s ‘Devide and Conquer’ motto) dengan 2 kontraktor Hughes dan Rate. 180 missile pertama sekitar $537.4 million (4 kali lebih tinggi dari yang diperkirakan) telah dipesan. Raytheon memproduksi 75, dan Hughes 105. Ditahun berikutnya 1988, pesanan untuk 630 missile dibagi dengan 55/45 dengan pembagian yang paling besar untuk Hughes. LRIP selanjutnya disetujui pada bulan Mei 1991.

Pada bulan September 1991, IOC (Initial Operational Capability) pada pesawat F-15 USAF telah dicapai oleh AMRAAM, kemudian diikuti oleh F-16 pada bulan Januari 1992, dan Navy dibulan Oktober 1993. Tingkat produksi dengan skala penuh disetujui pada bulan April 1992, yang menandai Milestone III.

Construction

AMRAAM ini disimpan dalam a light-weight structure of steel and titanium (struktur yang ringan dari baja dan titanium). Airframe dibagi menjadi 4 bagian utama : guidance, warhead, propulsion dan control. Keempat wing dan fin dilepas, bagian fitur guidance active X-band radar terminal seeker menggunakan highpower solid-state transmitter dengan a low-sidelobe, wide-gimbal antenna, dan built-in radio-frequency processor. Navigation, autopilot, radar, datalink, fuzing, sequencing, dan self-test function semuanya ditangani oleh single 30MHz microprocessor. Bagian propulsion terdiri dari advanced solid-fuel rocket motor untuk mencapai kecepatan 4 March dan jangkauan lebih dari 30 mil.

Key to drawing :
1. Radome.
2. Active Radar Antenna.
3. Batteries/ Transmitter Section.
4. Main micro-electronics Section.
5. Inertial Reference Unit, Target Detector and fuze.
6. Armament section with warhead.
7. Fixed forward wings.
8. Igniter.
9. Twin suspension lugs.
10. Solid rocket motor.
11. Control actuator group.
12. Moving fins.
13. Data Link (for mid-course guidance update).
14. Nozzle.

Dalam jangkauan yang jauh AMRAAM head untuk target menggunakan inertial guidance dan receives updated target information melalui datalink dari pesawat yang meluncurkan. Transisi ini menuju self-guiding terminal mode ketika target berada dalam jangkauan monopulse radar set, yang mengoperasikan high-PRF mode. Karena seeker ini menggunakan active radarnya sendiri (tidak seperti Sparrow), tidak memerlukan pesawat peluncur untuk menerangi target atau untuk melacak sasaran. Dalam kasus target mencoba untuk melindunginya sendiri dengan menggunakan active jamming, seeker AMRAAM akan beralih ke medium-PRF “home-on-jam” mode. Dengan sophisticated avionics/avionik yang canggih, high closing speed, dan excellent end-game maneuverability, kemungkinan untuk meloloskan diri dari AMRAAM sangat minim. Pada saat intercept active-radar proximity akan meleburkan detonate warhead 40-pound high-explosive untuk menghancurkan target. Pada jangkauan yang lebih dekat, bagian guide AMRAAM akan menggunakan radarnya sendiri, dan memberikan pada pesawat peluncuran untuk terlibat pada target selanjutnya.

Versions

AIM-120A
Seperti yang dijelaskan diatas.

AIM-120B, Rb 99
Missile AIM-120B merupakan hasil dari program two block AMRAAM Producibility Enhancement, Bmodel menggabungkan new digital processor, erasable programmable read only memory, dan five major electronic unit hardware chassis upgrades. AIM-120B dibawa oleh Gripen disebut dengan Rb 99.

AIM-120C
Missile AIM-120C mencakup desain ulang warhead dan meningkatkan rocket motor, fuzing logic, guidance algorithms, dan ECCM logic. Dimodifikasi untuk internal carriage F-22, AIM-120C akan dipotong sayapnya/”clipped wings” untuk mengurangi ukuran box/box size dari 17.4 menjadi 12.5 inchi.

F-16 Installation

A Shaw 79th Tiger FS (see markings on gunport cover) carrying dummy wingtip AIM-120s, AIM-9L/Ms and AGM-88s. (F-16.net photo)

Radar APG-66 yang dipasang di F-16 A/B awalnya tidak ditujukan untuk memiliki kemampuan missile BVR seperti Sparrow atau AMRAAM. Memang, seluruh konsep pesawat tempur cheap, light-weight fighter tanpa pemasangan missile SARH atau ARH. Namun, kebutuhan akan kemampuan BVR menjadi sangat penting ketika F-16 A/B beroperasi. Solusi jangka panjangnya adalah dengan memasukan missile AMRAAM yang semula dijadwalkan untuk memasuki pelayanan dalam tahun 1980-an, tetapi ditunda karena adanya serangkaian masalah perkembangan. Solusi sementara yang memungkinkan adalah pemasangan Skyflash British Aerospace atau Raytheon AIM-7 Sparrow. Tes pertama Sparrow yang akan dipersenjatai di F-16 adalah General Dynamics dengan inert rounds yang melekat di wingtip/ujung sayap, ke underwing pylons, dan bahkan ke pylon yang melekat ke mainwheel door. Lokasi undercarriage door digunakan untuk beberapa tes penembakan Sparrow dibulan November 1977, dan peluncuran tes dengan BAE Skyflash setahun ditahun berikutnya. Pada akhirnya F-16 A/B dimodifikasi menjadi F-16 A/B ADF, dan mampu menembakan Sparrow.

This test firing of an AIM-120 by an Eglin F-16C (39th FTS Squadron Commanders aircraft) shows the typical diamond-shaped exhaust gasses. (USAF photo)

Ketika MSIP Stage II telah disetujui untuk F-16, AMRAAM jauh lebih siap. Namun, penggabungan ECP350 (Engineering Change Proposal) mencakup perubahan pada wiring of the wings dan struktur pesawat, sehingga AIM-120 bisa dengan mudah dipasang nantinya. Block 10 menyediakan struktur sayap yang lebih kuat yang sangat penting untuk membawa missile, wiring dan software akan dipasang nantinya. Beberapa Block 10 dan Block 15 dapat dipasang dengan software/wiring, tetapi yang lainnya tidak. Jadi pada dasarnya Block 10 dan seterusnya mampu membawa AMRAAM secara struktural, meskipun A/B model tidak memiliki wiring dan software, dan meskipun C/D model memilik wiring, beberapa dari model tersebut tidak memiliki software yang penting, dan yang terakhir tergantung apakah customer dikenakan pembatasan ekspor atau tidak.

F-16 Loadout
AIM-120 pada F-16 dapat dipasang distations 1 dan 9 (1 missile disetiap wingtip), 2 & 8 (masing-masing 1 missile) dan 3 & 7 (masing-masing 1 missile).

Operational Use

Penembakan pertama AIM-120 ditembakan dari F-16, dan hampir mencetak central hit pada target QF-102 drone, yang meledak dan jatuh. Missile tersebut bahkan tidak membawa warhead.
Sebagian kecil AMRAAM dibawa oleh F-15 selama operasi Desert Storm, meskipun tidak ada yang ditembakan. AIM-120 ditugaskan kembali ke Persian Gulf ditahun 1992 untuk digunakan pada F-15 dan F-16. Pada bulan Desember 1992, (Operasi Southern Watch), pilot F-16 menembakan AMRAAM untuk pertama kalinya dalam combat yang sesungguhnya, menembak jatuh MiG-25 Foxbat selama konfrontasi atas southern Iraq. AIM-120 juga digunakan disouthern Iraq dan berhasil menjatuhkan target. Pencetakan kill ketiga AMRAAM dari F-16 Fighting Falcon terjadi di Bosnia.

The first-ever launched AIM-120 scored a direct hit agains the QF-102 drone (USAF photo)

Specifications

Primary Function : Air-to-air tactical missile.
Contractor : Hughes Aircraft Co. and Raytheon Co.
Power Plant : High performance.
Length : 143.9 inches (366cm).
Launch Weight : 335 pounds (150.75kg).
Diameter : 7 inches (17.78cm).
Wingspan : 20.7 inches (52.58cm).
Range : 30+ miles (48+ km).
Speed : Mach 4 capable.
Guidance System : Active radar terminal/inertial midcourse.
Warhead : 40 lbs, Blast fragmentation.
Unit Cost : $386,000 (FY 1999).

4. AIM-7 Sparrow
Medium Range Air-to-Air Missile

Introduction

AIM-7 Sparrow adalah missile supersonic, medium-range, air-to-air missile, yang mempunyai warhead high-explosive dan dipandu oleh RF-signals yang diterima dari pesawat peluncur. Missile ini juga mempunyai versi ship-based intercept yang mana disebut dengan RIM-7 Sea Sparrow.

History

AIM-7 Sparrow launch by the ADF testbed (#81817). [Photo by Joaquim Ferraz]

Perkembangan missile BVR ini dimulai tahun 1946, dengan nama proyek ‘Hotshot’. Proyek ini bertujuan untuk membuat sebuah missile yang mampu mencegah target yang memiliki kinerja yang tinggi dengan jangkauan menengah atau medium-range. Penembakan pertama missile ini terjadi pada bulan Desember 1952 yang disebut dengan AAM-N-2. Missile ini mencapai IOC diakhir tahun 1953 dan mulai beroperasi ditahun 1956 dengan F3H-2M ‘Demon’ dan F7U-3M ‘Cutlass’ fighter.

Selama bertahun-tahun, banyak sekali kesulitan yang muncul akan kemampuan operasional missile tersebut. Selama penyebarannya dengan pesawat F-4 di Vietnam theatre, missile tersebut tampaknya tidak berguna terhadap target yang mempunyai gerakan manuver yang tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, missile yang khusus untuk dogfight pun dirancang.

Pesawat F-16 tidak pernah dimaksudkan untuk membawa missile Sparrow, karena pesawat tersebut dirancang untuk menjadi short range day-time interceptor tanpa kemampuan BVR. Meskipun kemampuan pesawat untuk membawa missile tersebut sudah teruji dengan sukses ditahun 1977 dan akhirnya diperkenalkan pada F-16 Block 25 dan F-16 ADF sebelum viper mempunyai kemampuan BVR.

Construction

Sparrow memiliki cilindrical body dengan 4 wing di mid-body dan 4 tail fins. Missile tersebut dibagi menjadi 4 assemblie, yaitu : radar guidance system, warhead, flight control dan solid-propellant rocket motor.

Key to drawing :
1. Radome
2. Forward suspension lug
3. Wings
4. Control section
5. Rocket motor
6. Fins
7. Aft suspension lug
8. Connector
9. 1760 interface
10. Guidance section

Radar guidence system memproses signal radar yang diterima dari radar pesawat peluncur melalui rear signal receiver, dan juga proses RF energy yang dipantulkan oleh target yang diterima oleh internal radar receivernya sendiri. Missile ini diledakan dengan active RF fuze ketika berada dalam jangkauan target yang diproyeksikan. Missile tersebut dikontrol oleh flight control system melalui 4 movable delta wing, dan stabilitas keseluruhannya diberikan oleh 4 fixed delta fins yang terletak selaras dengan forward wings. solid-propellant rocket motor menyediakan propulasi (pendorong) pada missile.

Versions

AIM-7A
Original design digunakan dengan F3H-2M ‘Demon’ dan F7U-3M ‘Cutlass’ fighter. Missile tersebut dilengkapi dengan beam-riding guidence system yang memberikan kinerja poor low-level dan mengharuskan identifikasi visual target yang membuat missile ini bukan BVR tetapi missile VFR. Hal inilah yang menyebabkan missile tersebut ditarik dalam layanan dalam beberapa tahun.

AIM-7B
Dirancang khusus untuk digunakan dengan pesawat Douglas F5D ‘Skylancer’ fighter dan Canadian CF-105 ‘Arrow’ fighter, tetapi dibatalkan ditahun 1958.

AIM-7C
Missile ini dilengkapi dengan semi-active homing radar. Mempunyai 65 lb (30 kg) MK 38 continuous-rod warhead dan digerakan dengan solid-fueled rocket engine.

AIM-7D
AIM-7C dengan new Thiokol LR44-RM-2 storable liquid-propellant rocket engine dan guidance system ditingkatkan untuk anti-jamming yang lebih baik.

AIM-7E, AIM-7E-2, AIM-7E-3, AIM-7E-4, RIM-7E

The second YF-16 (#01568), equipped with 2x AIM-9, 2x AIM-7 and camera pods test-firing a Sparrow missile. (USAF photo)

Diperkenalkan pada tahun 1963, dan banyak digunakan di Vietnam bersama dengan F-4 ‘Phantom’. Menampilkan new propulsion system yang didasarkan pada solid-fueled rocket yang memberikan peningkatan jangkauan dan kinerja pada missile. Kinerja yang meningkat tidak dapat digunakan untuk full extend karena kemampuan IFF yang terbatas yang mana membutuhkan identifikasi visual dari target. Hal ini menyebabkan perkembangan AIM-7E-2 memiliki jangkauan minimum yang lebih pendek dan clipped wings untuk maneuverability yang lebih baik. AIM-7E-3 memiliki reabilitas yang lebih tinggi dan AIM-7E-4 disesuaikan untuk digunakan dengan high-power fighter radar (seperti AN/AWG-9 F-14).
Pada tahun 1967, turunan dari missile tersebut dikembangkan untuk digunakan dikapal dengan missile anti-aircraft defence system. Missile ini dikenal dengan RIM-7E Sea Sparrow. Missile tersebut pada dasarnya adalah AIM-7E yang tidak berubah dan ditembakan dari ASROC launcher yang telah dimodifikasi.

AIM-7F, RIM-7F
Diperkenalkan pada tahun 1972, yang menampilkan peningkatan secara radikal yang lebih dari versi sebelumnya, dilengkapi dengan dual-trust rocket motor untuk meningkatkan jangkauan dan new electronic guidance yang benar-benar baru, dan sistem kontrol yang sesuai dengan pulse-doppler radars.
RIM-7F Sea Sparrow adalah missile yang dilundurkan dari kapal yang setara dengan AIM-7F. missile tersebut relatif singkat masa hidupnya karena ada pengembangan yang lebih lanjut yang dibatalkan demi turunan AIM-7M, yaitu RIM-7M.

AIM-7G
Dirancang untuk digunakan dengan F-111D ‘Aardvark, tetapi tidak pernah dibawa kedalam produksi.

RIM-7H
RIM-7H merupakan dasar dari missile RIM-7E yang lebih baik yang digunakan untuk kapal, menampilkan folding fins agar lebih sesuai dengan compact MK 29 launchers. Karena pada dasarnya mirip dengan AIM/RIM-7E. Oleh karena itu tidak lebih canggih daripada RIM-7F. RIM-7H adalah missile yang digunakan dalam NATO Sea Sparrow Missile System (NSSMS) Block I.

AIM-7M, RIM-7M
Memasuki produksi pada tahun 1982, dan memiliki new inverse monopulse seeker untuk kemampuan look-down/shoot-down capability, digital computer, autopilot dan new WDU-27/B blast-fragmentation warhead.
RIM-7M Sea Sparrow adalah missile yang diluncurkan dari kapal setara dengan missile AIM-7M. selain 8-cell MK 29 box launcher, missile RIM-7M dapat juga ditembakan dari MK 41 (AEGIS) dan MK 48 VLS (Vertical Launch System) launchers.

AIM-7N
Dirancang untuk digunakan dengan F-15 MSIP (Multi Stage Improvement Program), tetapi tidak pernah masuk kedalam produksi.

RoCAF F-16A block 20 #93711 assigned to the 21st FS launches an AIM-7 Sparrow missile over the Gulf of Mexico, during the Air-to-Air Weapons System Evaluation Program, Combat Archer, hosted by the 83rd FWS, located at Tyndall AFB on November 17th, 2003. (USAF photo by MSGT Michael Ammons)

AIM-7P, RIM-7P
Memasuki produksi pada tahun 1987, AIM-7P adalah missile AIM-7M yang ditingkatkan, fitur ini memiliki peningkatan guidance electronics, dan on-board computer dan memiliki uplin ke autopilot untuk mid-course guidance updates. Ada 2 subvariants AIM-7P, yang dikenal dengan Block I dan Block II. AIM-7P Block I memiliki WGU-6D/B guidance section, dan Block II menggunakan WGU-23D/B guidance section.

AIM-7R, RIM-7R
AIM-7R telah dikembangkan pada awal tahun 1990-an sebagai improved AIM-7P Block II. Memiliki fitur new dual mode (Radar/IR) seeker yang dikembangkan dibawah MHIP (Missile Homing Improvement Program). Setara dengan versi yang diluncurkan dari kapal yaitu RIM-7R. Meskipun pada awalnya dirancang untuk mengupgrade AIM/RIM-7M/P round menjadi AIM/RIM-7R standard, program -7R dibatalkan karena biaya yang tinggi pada bulan Desember 1996, setelah fase evaluasi selesai.

F-16 Installation

F-16 Loadout


Pada F-16, AIM-7 Sparrow dapat dipasang pada stations 3 dan 7 (masing-masing 1 missile pada station). Station lainnya telah memakai wired untuk tujuan pengujian tetapi tidak pernah pada pesawat operasional.

Operational Use


Penggunaan yang real AIM-7 Sparrow tejadi pada konflik Vietnam dimana banyak digunakan oleh F-4 Phantom USAF dan US Navy. Keterlibatan pertama kali terjadi pada tanggal 7 Juni 7 1965, ketika F-4 B US Navy menembak jatuh 2 unit MiG-17 Vietnam. Meskipun missile tersebut menjadi perlengkapan pada F-4 dan digunakan hampir setiap hari, namun hasilnya sangat disayangkan. Karena tidak adanya sistem IFF yang handal pada pesawat tersebut, kapasitas long-range pada AIM-7 tidak dapat digunakan sehingga missile tersebut tidak lebih menjadi short-range radar guide missile. Dan Kill-ratio pertama missile tersebut tidak lebih dari 10%.

Oleh kerena itu, sebuah missile baru dikembangkan sangat cepat untuk mengisi kekosongan ini, yang menjadi AIM-7E-2. Dengan diperkenalkannya new missile overall effectiveness dan kill-ratio pun mulai membaik. Dengan berakhirnya konflik total kill yang dikonfirmasi lebih dari 50.

Penggunaan terakhir AIM-7 sampai sekarang terjadi pada operasi Desert Storm ditahun 1991. Missile tersebut digunakan secara luas oleh F-15 dan F-16. Pada ahir perang 22 unit pesawat Iraq jatuh ditembak oleh missile AIM-7.

Penggunaan missile tersebut akan terus menerus digunakan oleh berbagai angkatan udara didunia dan akan digunakan oleh berbagai kapal-kapal angkatan laut yang berbeda dengan menggunakan missile versi Sea Sparrow. Namun, pengembangan missile tersebut telah terhenti demi mendukung perkembangan missile AIM-120 AMRAAM. Meskipun missile AIM-7 merupakan missile yang bagus, namun ia mempunyai kelemahan utama, yaitu setelah penembakannya, pesawat harus terus-menerus menerangi target sampai mengenai benturan pada target.

Karena alasan inilah missile tersebut perlahan-lahan kehilangan keefektifannya dan digantikan sepenuhnya dengan AIM-120 AMRAAM atau missile medium sampai long range fire-and-forget lainnya.

Specifications :

Primary Function : Air-to-air missile.
Contractor : Naval Weapons Center.
Power Plant : Hercules and Bermite Mk 36 Mod 71, 8 solid-propellant rocket motor.
Length : see table below.
Launch Weight : see table below.
Diameter : 8 inches (203 mm).
Wingspan : see table below.
Range : see table below.
Speed : see table below.
Guidance System : Solid-state, infrared homing system .
Warhead : Blast fragmentation, see table below.
Unit Cost : $125,000 (FY 1999).

5. AIM-9 Sidewinder
Short Range Air-to-Air Missile

Introduction


AIM-9 Sidewinder adalah missile supersonic, heat-seeking, air-to-air missile. Memiliki warhead high-explosive dan passive infrared guidance system. Missile ini digunakan oleh beberapa pesawat fixed-wing combat dan helikopter Barat, dan telah diadopsi untuk surface-to-air sebagaimana missile Chaparral. Unit costnya mulai dari $56.000 sampai $84.000 (FY 1999).

History

Pada tahun 1949, tim kecil di NOTS (kemudian berubah NWC) China Lake, yang dipimpin oleh Dr. McLean, menyelidiki masalah passive Infra Red homing dengan biaya yang terbatas. Anehnya, hasil dari penelitian low-profile research masih dikenal sebagai salah satu missile dogfight yang terkemuka didunia, seolah dengan keterbatasan biaya tidak membatasi missile tersebut. Tim menerapkan tentang batasan missile yaitu : airframe hanya 5 inchi (127mm) diameter, yang dibuat sesuai dengan elektronik yang diperlukan (masih vacuum-tube pada masa itu). Penelitian ini mengakibatkan kontrak diberikan pada Philco ditahun 1951, untuk homing head.

Pada tanggal 11 September 1953, missile pertama yang sukses dalam penembakan disebut dengan XAAM-N-7, dan mencapai IOC pada tahun 1956. Sebutanya adalah N-7 (US Navy), GAR-8 (USAF) dan SW-1 (pengembangan). Sebutan AIM-9 pada sidwinder pada tahun 1962, sementara RB.74 adalah sebutan Swedia. Selam bertahun-tahun missile terus ditingkatkan dan diupgrade. Versi terakhir yang diproyeksikan adalah AIM-9R dan AIM-9X.

Construction

Modified AIM-9L/M on a Belgian F-16A during Red Flag 97-4. (F-16.net photo)

Sidewinder yang dahulu terdiri dari sections of cilindrical aluminum tube (bagian tabung alumunium silinder) dengan seeker head yang dipasang diujung depan bersamaan dengan control fins. Bagian belakang memiliki 4 fixed fins, masing-masing mengandung apa yang disebut dengan ‘rolleron’. Rolleron ini dipatenkan berada di fact small wheels, salah satunya dipasang di rear tip (ujung belakang) disetiap fixed tailfin. Wheels ini agak digiling diujung (These wheels are slightly milled at the edges), sehingga mereka dibuat berputar dengan kecepatan tinggi oleh slipstream. Rollerons ini bertindak sebagai air-driven mini-gyros, inertial momentnya menolak setiap perubahan attitude. Denga cara inilah mereka cenderung menstabilkan roll missile. Tailfins dan control surfaces berada dalam cross-like arrangement.

Komponen utama missile ini adalah infrared homing guidance section, an active optical target detector, a high-explosive warhead, dan a rocket motor. Infrared guidance head membantu missile menuju ke home pada target aircraft engine exhaust (target mesin knalpot pesawat). Infrared unit costs kurang dari beberapa tipe guidance systems lainnya, dan dapat digunakan dalam day/night and electronic countermeasures conditions. Infrared seeker juga membantu pilot untuk menembakan missile, kemudian meninggalkan area tersebut atau mengambil tindakan pencegahan saat missile guides menuju ketarget. Model awal menggunakan uncooled PbS (Lead Sulfide) seeker yang menghasilkan 70% SSKP (Single-Shot Kill Probability) dalam kondisi yang ideal, tetapi hasil yang sangat buruk dapat didapatkan ketika dalam keadaan yang kurang ideal. Seeker menunjukan kecenderungannya lock-on kematahari atau refleksi dari permukaan air. Original solid-engine diproduksi oleh Hunter-Douglas, Hercules dan Norris-Thermador, dan akselerasi missile mencapai 2.5 March dalam 2.2 detik.

Versions

AIM-9, AIM-9A, AIM-9B

Versi original dibangun dalam 3 versi yang hampir sama, dengan mayoritas produksi missile 9B. 80.900 telah dibangun oleh Philco (kemudian berganti Ford) dan Raytheon, dan 15.000 selanjutnya dibangun oleh European consortium. AIM-9B FGW.2 merupakan modifikasi yang dilakukan terhadap missile Eropa diakhir tahun 1960-an, menggabungkan new seeker head yang dibangun oleh BGT dengan silicium nose dome (silicium adalah – at infra red wavelengths – lebih transparan daripada glass) cooled seeker dan solid-state electronics.

AIM-9C/D

C dan D model merupakan realisasi dari model yang sama (SW-1C) yang dibangun oleh Motorola dan Ford, memperkenalkan Rocketdyne Mk.36 solid motor yang menyediakan jangkauan yang lebih besar dan new guidance system. 9C sebenarnya varian SARH untuk F-8 Crusader, tetapi terbukti tidak dapat diandalkan. Sementara 9D menawarkan peningkatan nitrogen-cooled IR seeker dengan magnesium-fluoride dome. 9D ini juga menawarkan smaller field-of-view, faster tracking/reticle speed, detachable larger fins dan diaktifkan oleh high-power actuators fed dari longer-burning gas generator, dan 22.4lbs continuous-rod annular blast-fragmentation warhead yang menggantikan 10lbs. IR dan HF fuzes dapat dipasang.

AIM-9E, AIM-9E-2

Echo memperluas keterlibatan envelope pada low altitudes/ketinggian rendah melalui new Ford seeker head dengan Peltier (thermoelectric) cooling dan new electronics – yang dapat meningkatkan tracking lebih cepat. AIM-9E memiliki peningkatan guidance dan control system yang lebih baik begitu juga dengan aerodynamic nose. Model ini menyediakan jangkauan yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan low-altitude terhadap manuver target. Beberapa model E dilengkapi dengan reduced/berkurangnya – smoke rocket motors dan memiliki sebutan AIM-9E-2.

The YF-16 and F-16 No.1, both with AIM-9E Sidewinders. Note the radar-less small nose of the YF on the left. (Tom Collins photo)

AIM-9G/H

AIM-9G adalah versi pertama yang dilengkapi dengan SEAM (Sidewinder Expanded Acquisition Mode), pada dasarnya merupakan peningkatan AIM-9D seeker head, tetapi cepat sekali tidak terpakai karena adanya AIM-9H. Yang terakhir ini adalah model pertama yang menawarkan kemampuan limited all-weather, disertai dengan solid-state electronics dan double-delta control surfaces sehingga menghasilkan manuver yang unggul dibandingkan dengan model yang lama. SEAM membantu seeker head missile menuju radar ketika “dogfight”, yang memungkinkan seeker head uncaged, meliuk-liuk menuju target yang telah ditentukan oleh radar pesawat, dan melakukan track pada target sebelum tembakan diluncurkan.

AIM-9J, AIM-9J-1, AIM-9J-3, AIM-9N, Rb 24

AIM-9J merupakan pembangunan ulang dari 9E atau 9B yang mengorbankan jangkauan untuk kecepatan. Detachable double-delta controls telah ditambahkan begitu juga dengan solid-state electronics dan a long burning gas generator. J model memiliki target-engagement cone yang diperluas yang dapat diluncurkan disetiap tempat di rear half/pertengahan belakang target pesawat daripada hanya sekedar diexhaus/kanlpot. Dash-1 dan Dash-3 merupakan peningkatan versi dan seluruhnya adalah baru. AIM-9J-1 kemudian menjadi AIM-9N. AIM-9J Swedia disebut dengan Rb 24.

AIM-9L/M, AIM-9M-7, Rb 74

AIM-9L memperkenalkan new guidance system yang lainnya yang membuatna menjadi true all-aspect missile (yang berarti tidak perlu ditujukan hanya diexhaust target, tetapi juga dapat melock on wing edges yang dipanaskan dari hasil gesekan udara misalnya) dan an annular blast-fragmentation warhead dikelilingi oleh sheath of pre-fragmented rods. Hal ini menggunakan proximity-fuze, yang terdiri dari ring of GaAs (Gallium-Arsenide) laserdiodes dan corresponding photodiodes. Jika target cukup dekat untuk merefleksikan kembali cahaya yang dipancarkan ke receiving photodiodes, warhead ditembakan. Peningkatan optical fuze ini meningkatkan lethality missile dan perlawanan terhadap electronic countermeasures. Terlepas dari desain dasarnya, all-aspect AIM-9L Sidewinder masih tetap menjadi ancaman yang potensial, melebihi keefektifan setidaknya dari Russian-built Molniya/Vympel R-73 (yang dikenal dibarat dengan AA-11 Archer) yang mengkombinasikan aerodynamic dan thrust-vectoring control systems. AIM-9L Swedia disebut dengan Rb 74.
AIM-9M tidak hanya memiliki kemampuan seluruh aspek L model, tetapi menyediakan kinerja yang seluruhnya lebih baik. M model memiliki peningkatan defensif untuk melawan infrared countermeasures, enhanced background discrimination capability, dan a reduced-smoke rocket motor. Modifikasi ini meningkatkan kemampuan untuk melokasikan dan melock-on target dan mengurangi kemungkinan missile untuk dideteksi. Pengirimam M model dimulai ditahun 1983.
AIM-9M-7 merupakan modifikasi khusus AIM-9M dalam merespon threats yang diperkirakan dalam operasi Desert Shield dan operasi Desert Storm.

A close look at the teeth of the Wild Weasel: two 35th FW F-16CJ-50s carrying HTS pod, 2x AIM-9P, 2x AIM-120, 2x AGM-88, ECM pod, and 2x 370gal fuel tanks. (USAF photo)

AIM-9P, AIM-9P-1, AIM-9P-2, AIM-9P-3, AIM-9P-4

AIM-9P adalah salah satu B/E atau J model yang dibangun kembali atau all-new dan menyediakan new motor, fuze dan kehandalan yang lebih baik, memiliki engagement boundaries yang lebih besar, dapat diluncurkan jauh dari target. P model mempunyai manuver yang lebih banyak dan juga peningkatan solid-state electronics yang meningkatkan kehandalan dan mudahnya perawatan, pengiriman dimulai pada tahun 1978. AIM-9P-1 memiliki active optical target detector sebagai pengganti infrared influence fuze; AIM-9P-2 menambahkan reduced-smoke motor. Versi yang baru-baru ini dikembangkan adalah AIM-9P-3, kombinasi antara active optical target detector dan reduced-smoke motor. Dan juga menambahkan mechanical strengthening/penguatan mekanik kewarhead, begitu juga dengan guidance dan control section. Peningkatan warhead menggunakan new explosive material yang kurang sensitif terhadap high temperature dan memiliki shelf life yang lebih panjang. AIM-9P-4 menambahkan semua kemampuan aspek .

Low-level Pakistani F-16A, armed with 2 AIM-9P Sidewinders and 2 high-drag Mk.82s. (PAF photo)

AIM-9Q
AIM-9M dengan upgrade guidance/control section.

AIM-9R
AIM-9R awalnya didanai sebagai program AIM-9M Product Improvement Program (PIP). Under Pave Prism, upaya penelitian terus disempurnakan untuk clutter rejection, aim-point selection yang lebih baik, peningkatan field-of-view untuk tracking highly maneuverable or off-boresight targets (melacak target yang memiliki manuver yang tinggi atau off-boresight dan IRCCM (Infra Red Counter Counter Measures) yang lebih baik.
Seeker head menggabungkan 3-gimbal stabilized optical platform bearing a new Imaging IR (IRR) seeker dengan a focal plane array, yang dapat melock on target pada jangkauan yang lebih besar daripada versi-versi sebelumnya, a digital image processor dan autotrack function, dan penggunaan EPROM (Electronically Programmable ROM) untuk memfalisitasi upgrade softwere, 9R juga menyediakan refrigeration system (sistem pendinginan) yang dipasang baik dimissile itu sendiri (USAF) atau didalam launcher shoe (versi US Navy). Dengan biaya $50 M upaya pengembangan pun dilakukan pada tahun 1987, dan 65 pertama pre-production IIR seekers dikirimkan ke US Navy pada bulan Mei 1990. 5 dari 6 tes sukses. Pada bulan September 1991, USAF keluar dari program AIM-9R dengan alasan unit cost $103.000 terlalu tinggi (perkiraan unit cost dimulai dari $70.000 sampai yang paling tinggi $180.000), pengunduran diri USAF ini menjadi beban biaya pada US Navy yang mengarah kepada pembatalan program AIM-9R pada bulan Desember.

AIM-9S
AIM-9M dengam IRCCM telah dihapuskan untuk customer Foreign Military Sales.

AIM-9X
AIM-9X adalah pengembangan terbaru dari Sidewinder family. Pembangunan missile ini dimulai kembali pada tahun 1992, dan pengenalan diperkirakan akan dimulai antara tahun 2001 dan 2004, ketika produksi dalam skala penuh telah diatur.
AIM-9X merupakan pengembangan yang lebih lanjut dan penyempurnaan dari versi M, yang mebantu masalah kekurangan yang ada di versi M dalam kemampuan field of high off-boresight angle capability, infra-red counter-countermeasures dan missile maneuverability. Hal ini dapat membantu missile untuk mentrack dengan ait-to-air missiles yang tersedia di market internasional.

F-16 Installation

F-16 Loadout
Pada F-16, AIM-9 Sidewinder dapat dimuat di stations 1 dan 9 (wingtip), 2 dan 8, dan 3 dan 7 (1 missile pada masing-masing station).

Operational Use


Kesimpelan AIM-9 dengan ‘kurang dari 24 moving parts’ (seperti yang diiklankan) membuat missile ini berada dalam low-cost dan dapat diandalkan yang mana cocok dengan semua jenis pesawat yang ada, meskipun versi sebelumnya dibatasi untuk perfect visibility, close stern engagements, kemudian versi quickly alleviated these problems.

Untuk menembakan missile ini, pilot mendengarkan signal missile diheadsetnya, segera setelah missile di uncaged/dilepas, pilot mendengar ‘seeking tone’. Setelah missile mengakuisisi target, tone berubah menjadi ‘growl’, yang bervariasi sesuai dengan kwalitas lock, kemudian varian missile itu dapat membantu radar sehingga ketika pilot mencapai radar-lock on a target, radar bisa ‘’meberitahu’’ sidewinder dimana lokasi target.

Penggunaan operasional pertama sidewinder terjadi pada bulan Oktober 1958, hanya 2 tahun setelah sistem mencapai IOC. Jumlah round yang besar ditembakan oleh F-86 Nationalist Chinese melawan MiG-17 Chinese, dengan klaim 14 kill dalam 1 hari.

Penggunaan ekstensif sidewinder dibuat saat konflik Vietnam. Tabel berikut menunjukan AIM-9 kills yang berhubungan dengan US armed services involved. Jika daftar ini tidak lengkap atau mengandung kesalahan, maka jangan ragu untuk mengirimkan updatenya.

Randy H. ‘Duke’ Cunningham merupakan pilot ace Amerika pertama dalam perang Vietnam dan Navy jet pertama dalam sejarah, terbang dari misi combat dari USS Constellation sebagai bagian dari VF-96, dia dan RIO Bill Driscoll menjatuhan MiG-21 Fishbed dalam treetop-level dogfight pada tanggal 19 January 1972 yang menjadi kemenangan pertama mereka. Pada tanggal 8 Mei 1972, dengan menembak jatuh 3 MiG-17 ‘Frescos’, merupakan bagian akhir wingman mereka.

2 hari kemudian tanggal 10 Mei 1972, sebagai bagian timbulnya operasi LINEBACKER lebih dari 20 MiG-17 diserbu dalam formation east of Hanoi. Selama pertempuran, pasangan tersebut mencetak rekor ke 3 4 dan 5 kill mereka, yang terakhir ini yang paling terkenal yang menjadikan mereka top aces di North Vietnamese. Sayangnya selama mereka kembali ke USS Constellation F-4 mereka terkena SA-2 Guideline surface to air missile yang menyebabkan kerusakan besar sehingga crew mengeject diatas Gulf of Tonkin. Untuk tindakan mereka ini, Cunningham dan Driscoll dianugerahi Navy Cross.

Selama tahun 1982, penugasa diatas udara Lebanon’s Bekaa Valley, 51 dari 55 MIG Suriah ditembak jatuh oleh Sidewinder.

Selama perang Falklands ditahun 1982, 100 AIM-9L disuplai ke RAF dan RNavy, karena Eropa tidak memproduksi Lima model yang benar-benar sampai ke British forces. Digunakan oleh RN Sea Hariers dan RAF Harriers (ditempatkan di RN ships), missile mencetak 17 kill dan 2 assists terhadap pesawat Argentina.

Harrier GR.3 RAF cocok untuk dan memang kadang-kadang membawa Sidewinder selama perang Falklands.

Nimrod MR.2 maritime reconnaissance aircraft RAF, yang berbasis di pulau Ascension, dilengkapi dengan Sidewinder selama perang. Nimrod merupakan keturunan dari pesawat De Havilland Comet airliner, sehingga membuatnya menjadi salah satu ‘’Fighter’ terbesar dalam sejarah!.

Dalam operasi Desert Storm telah menembakan 86 Sidewinder oleh pesawat US Navy, USAF dan USMC – menghasil 13 kil yang telah dikonfirmasi (dan bukan 12 seperti yang telah dilaporkan dalam publikasi lainnya – salah kutipan kill terjadi karena Fishbed kill oleh LCDR Fox yang dimaksudkan untuk menembakan missile Sparrow tetapi sebagai gantinya penembakan missile sidewinder dilakukan setelah melihat tidak adanya smoketrail, ia menyadari bahwa ia telah menembakan AIM-9 dan kemudian meluncurkan Sparrow, akan tetapi AIM-9 yang pertama kali tiba ditarget.

Specifications

Primary Function : Air-to-air missile.
Contractor : Naval Weapons Center.
Power Plant : Hercules and Bermite Mk 36 Mod 71, 8 solid-propellant rocket motor.
Length : see table below.
Launch Weight : see table below.
Diameter : 5 inches (13cm).
Wingspan : see table below.
Range : see table below.
Speed : see table below.
Guidance System : Solid-state, infrared homing system.
Warhead : see table below, Blast fragmentation.
Unit Cost : $84,000 (FY 1999).

Similar Weapons

Box Office/Improved Sidewinder
Program USAF sebelumnya diklasifikasikan dimulai pada tahun 1988, bersamaan dengan Raytheon untuk overhaul desain Sidewinder. Missile tersebut memperkenalkan tail control with small independently activated tail fins yang berbentuk seperti MIM-104 Patriot, dan menghilangkan wings dan rollerons, mengandalkan body untuk lift. Missile tersebut juga memiliki akselerasi yang lebih besar, memiliki kemampuan manuver 50-g dan sesuai didalam 1/4 of the weapons bay space yang dibutuhkan untuk AIM-9 konvensional. Guidance system memberikan Electronically Erasable Programmable Read- Only Memory (EEPROM), dan digital roll-control autopilot.
“Box size” (i.e., the square dimensions of its container) 7.9 in (200 mm) dibandingkan dengan 20 in (508 mm) of the standard Sidewinder. Jelas, Box Office ini dirancang untuk dapat dipasang di internal weapons bay pesawat seperti F-22, sehingga dapat dibawa dalam volume tertentu.

Boa
Mirip dengan Box Office, tetapi dilakukan oleh US Naval Air Test Center di China Lake, CA. ukuran wing hanya dikurangi dan bukan dihilangkan.

Sumber: www.f-16.net
Artikel ini merupakan sumbangan dari Formiler Kaskus, agan Penjarah.
Terima kasih Bro! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *