USS Langley (CV-1) (AV-3) Turbo Electrical-Powered Aircraft Carrier

USS Langley (foto: www.militaryfactory.com)

Nama: USS Langley (CV-1) (AV-3) 
Tipe Klasifikasi: Kapal Induk Bertenaga Elektrik Turbo 
Kelas Kapal: Kelas Langley 
Negara Asal: Amerika Serikat 
Jumlah Kapal Sekelas: 1 
Operator: Amerika Serikat 
Kapal Sekelas: USS Langley (CV-1) (AV-3) 

USS Langley (CV-1) adalah kapal induk pertama milik AL AS. Hull Langley sebelumnya telah dioperasikan di bawah nama USS Jupiter (Collier # 3), sebuah kapal batubara yang juga digunakan sebagai test bed AL AS untuk kapal bermesin elektrik turbo. Ekperimen ini didesain untuk meningkatkan keamanan di atas kapal AL AS dengan tidak menggunakan tungku pembakaran batubara standar, sehingga mengurangi resiko ledakan karena debu batubara. Presiden William H. Taft menghadiri upacara peletakan keel dan kapal dioperasikan secara resmi pada 7 April 1913.

Jupiter memiliki karir penting mengangkut Marinir Armada Pasifik di Mazatlan, Meksiko selama krisis Vera Cruz. Pada perjalanan pulangnya, dia berlayar melalui Terusan Panama di Hari Columbus, yang membuatnya menjadi kapal pertama yang menyebrang dari pantai barat ke pantai timur AS. Tugas utamanya adalah sebagai kapal pengangkut batubara untuk armadanya dan dikirim ke Perancis pada 1917 dan 1918. Cukup menariknya, pada pelayaran pertamanya dia mengangkut detasemen aviasi AL yang terdiri dari 7 opsir dan 122 orang ke Inggris. Ini adalah detasemen aviasi AL AS pertama yang tiba di Eropa, dikomandoi oleh Letnan Kenneth Whiting, yang kemudian menjadi pejabat eksekutif pertama Langley. Konversinya menjadi kapal induk disahkan pada 11 Juli 1919, yang selanjutnya dia harus berlayar ke Hampton Road, Virginia, untuk dinonaktifkan sebagai USS Jupiter pada Maret 1920. AL AS memilih kapal induk pertamanya untuk dinamai dengan USS Langley (CV-1) untuk menghormati Samuel Pierpoint Langley (1834-1906), seorang pioneer AS dalam desain dari heavier-than-air craft.

USS Langley menjadi sebuah kapal induk untuk melakukan ujicoba dalam aviasi kelautan dan banyak perubahan yang dibutuhkan dalam konversinya dari kapal angkut batubara. Superstruktur, derek, kingpost, tiang dan cerobong dihilangkan, sementara dek penerbangan persegi panjang dipasang. Dek penerbangan kayu ini diperkuat dengan rangka baja. Di bawah dek terdapat ruangan untuk ventilasi dan pencahayaan alami untuk membantu pengerjaan di bawah-dek dan kondisi untuk keselamatan umum. Sebuah elevator ditambahkan pada bagian tengah kapal dan dua ketapel peluncuran untuk membantu lepas landas pesawat dipasang pada dek penerbangan.

Enam kargo besar (aslinya digunakan untuk tempat penyimpanan batubara) terbukti ideal untuk dek hangar pesawat dan ruang permesinan diposisikan di bagian belakang kapal. Motor penggerak elektriknya masih sama seperti sebelumnya dan memberi tenaga pada 3 pendidih yang menghasilkan 190psi dan 6,500 shaft horsepower untuk 2 baling-baling. Aransemen powerplant ini mengijinkan bobot mati hingga 15,150 ton dengan kecepatan impresif 15.5 knot. Untuk pertahanan diri, USS Langley dilengkapi dengan empat meriam tunggal 5 inci kaliber 51. CV-1 memiliki ruang untuk sekitar 34 pesawat (biplane) karena pesawat dengan sayap yang dapat ditekuk belum ada pada saat itu. Awak operasionalnya terdiri dari 468 pelaut dan personel air wing. Kapal induk ini memiliki panjang 542 kaki, 3 inci dan lebar 65 kaki, 3 inci. Dua derek gantry dipasang dan Lubang Nomor 1 didedikasikan untuk tempat penyimpanan bahan bakar aviasi. Uptake pada sisi kanan dihubungkan silang ke sisi kiri dan bergantung ke bawah untuk operasi dek penerbangan tak terhalang.

Catatan historis yang menarik dari Langley adalah dipasangnya rumah merpati di bagian buritan di antara senapan anti-pesawat 5 inci kaliber 51. Merpati masih digunakan pada saat itu dan dibawa di atas kapal untuk pengiriman pesan, hal ini dimulai pada PD I. Merpati AL AS dilatih di Norfolk Naval Shipyard pada waktu bersamaan dengan pengonversian USS Langley menjadi CV-1. Walaupun penggunaan hewan terlatih terdengar dapat diaplikasikan, ini memberikan beberapa dilema bagi operatornya. Terlihat bahwa ketika merpati dilepaskan pada suatu waktu, meeka akan kembali ke kapal. Akan tetapi pada waktu berbeda, merpati dlaam jumlah besar dilepaskan di dekat Pulau Tangier di Chesapeake Bay dan tidak kembali dan malah terbang ke selatan menuju galangan kapal Norfolk.

Oktober 1922 adalah bulan yang penting dalam sejarah aviasi kelautan, menandai lepas landas dan pendaratan pesawat pertama dari kapal induk di lautan. Pesawat biplane Vought VE-7 Bluebird membuat sejarang sebagai pesawat pertama yang lepas landas dari USS Langley pada 17 Oktober 1922 dengan pilot Lieutenant Commander Virgil C. (Squash) Griffin. Sembilan hari kemudian, pada tanggal 26, Lieutenant Commander G. de Chevalier mendaratkan pesawat biplane Aeromarine 39B pada dek USS Langley ketika berlayar.

Setelah beberapa perbaikan tambahan, USS Langley berlayar menuju Laut Karibia untuk melakukan uji operasi penerbangan termasuk peluncuran dan pendaratan pesawat. Pada Juni kapal ini melakukan latihan di sepanjang pantai Atlantik hingga 1924. Langley kemudian berpartisipasi pada latihan manuver dan menghabiskan musim panasnya di Norfolk untuk perbaikan. Pada November, Langley berangkat ke Pantai Barat dan sampai di San Diego, Kalifornia untuk bergabung dengan Armada Tempur Pasifik. Untuk 12 tahun selanjutnya, kapal ini dioperasikan di pantai barat dan perairan Hawaii, melakukan pelatihan armada dasar, pelatihan pilot dan latihan permainan taktis.

Pada Oktober 1936, Langley kembali ke Mare Island Navy Yard di Kalifornia untuk overhaul dan konversi menjadi sebuah kapal angkut pesawat amfibi (seaplane tender). Dengan karirnya sebagai kapal induk secara resmi berakhir, pilot terlatihnya dipindah ke kapal induk USS Lexington dan USS Saratoga. Langley kemudian diklasifikasikan ulang sebagai AV-3 dengan penyelesaian konversi pada Februari 1937. Kapal ini kemudian ditugaskan ke Aircraft Scouting Force dan melakukan tugasnya di Seattle-Washington, Sitka-Alaska, Pearl Harbor-Hawaii, dan San Diego-California. Pada Juli 1939, dia ditugaskan dengan Armada Pasifik di Manila Filipina dan sampai pada September di tahun yang sama.

Dengan masuknya AS ke PD II, Langley berlabuh di Cavite, Filipina dan tetap tidak terdeteksi oleh pasukan Jepang. Pada 8 Desember, setelah invasi Filipina oleh Jepang, dia berlayar dari Cavite ke Balikpapan di Hidia Belanda. Invasi Jepang berlanjut dan Langley diperintahkan untuk berlayar ke Australia, dan sampai di darwin pada 1 Januari 1942. AL AS pada saat itu berada pada masa bahaya, sehingga Langley menjadi bagian angkatan AL kombinasi dengan American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM). Dalam kapasitas ini, USS Langley membantu Royal Australian Air Force dalam melakukan patroli anti-kapal selam di Darwin, Australia.

Dengan kebutuhan Sekutu atas pesawat di Asia Tenggara, Langley mengangkut 32 fighter Curtiss P-40 Warhawk yang tugaskan untuk Army Air Force 49th Pursuit Group AS ke Cilacap, Jawa, pada Februari. Langley kemudian meninggalkan Cilacap pada 27 Februari untuk kembali bergabung dengan grup destroyernya yang terdiri dari Whipple dan Edsall. Ketika kapal ini berada sekitar 75 mil (120 km) di selatan Cilacap, sembilan bomber bermesin-kembar Mitsubishi G4M “Betty” menyerangnya. Selama penyerangan, USS Langley terhantam setidaknya 5 bom, menewaskan 16 awaknya. Pesawatnya yeng berada di dek penerbangan kemudian terbakar dan memicu ledakan di bawah dek penerbangannya, sehingga mengganggu kemampuan untuk dikemudikan, memaksanya kembali ke pelabuhan. Setelah usaha keras dari awaknya untuk kembali ke Jawa, USS Langley terhenti di perairan. Dengan mesin yang terbanjiri tanpa ada harapan untuk bisa dihidupkan kembali, perintah kemudian diturunkan untuk meningalkan kapal. Setelah semua awak dipindahkan secara aman dari kapal, destroyer Whipple menembakkan sembilan meriam 4 inci ke USS Langley, sementara Edsall menembakkan dua torpedo ke sisi kapal dengan perhitungan yang tepat. Keputusan untuk menenggelamkan langley adalah untuk meyakinkan bahwa kapal ini tidak menjadi hadiah perang Jepang. Awak selamat dari Langley kemudian bertugas di berbagai kapal induk selama konflik, sangat membantu usaha perang Sekutu. Walaupun akhir perjalanannya tidak disertai dengan upacara di lautan, USS Langley telah memberikan kenangan dan warisan abadi bagi mereka yang pernag bertugas di bawah benderanya.

USS Jupiter/USS Langley menerima beberapa penghargaan selama tugasnya di lautan. Sebagai Jupiter, dia menerima Mexican Service Medal dan World War 1 victory medal. Sebagai Langley, dia menerima American Defense Service Medal (“Fleet” clasp), Asiatic-Pacific Campaign Medal dan World War 2 Victory Medal.

Skema USS Langley (gambar: www.the-blueprints.com)

Spesifikasi USS Langley (CV-1) (AV-3) 

Dimensi:
Panjang: 542.3 kaki (165.29m)
Beam: 65.3 kaki (19.90m)
Draught: 20.7 kaki (6.31m)

Performa:
Kecepatan Permukaan: 15kts (17mph)
Jarak: 14,092miles (22,679km)

Persenjataan:
USS Jupiter:
4 x mesiam tunggal 4inci
USS Langley:
4 x mesiam tunggal 5inci kaliber 51

Struktur:
Awak: 631
Bobot Mati: 13,000ton

Mesin:
Mesin: penggerak turbo-elektrik General Electric; 2 x shaft; 3 x pendidih; menghasilkan 6,500 shaft horsepower

Air Arm:
USS Langley:
34 x fighter bi-plane VE-7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *