USS Lexington (CV-2) Aircraft Carrier

USS Lexington (CV-2) (foto: wwiiguide.webs.com)

Nama: USS Lexington (CV-2) 

Tipe Klasifikasi: Kapal Induk 

Kelas Kapal: Kelas Lexington 
Negara Asal: Amerika Serikat 
Jumlah Kapal Sekelas: 6 
Operator: Amerika Serikat 
Kapal Sekelas: USS Lexington (CV-2); USS Saratoga (CV-3); USS Constellation (CC-2); USS Ranger (CC-4); USS Constitution (CC-5); USS United States (CC-6)

USS Lexington (CV-2) dan USS Saratoga (CV-3), keduanya beroperasi dengan baik untuk AL AS pada masa-masa perang, memberikan AS pengalaman tak ternilai harganya yang terbayar pada saat PD II. USS Lexington adalah lead ship dari kelasnya dengan Saratoga sebagai sister shipnya. Nama Lexington berasal dari Battle of Lexington pada 1775 sebagai bagian dari American Revolutionary War, perang yang mewakili perang awal dari koloni pemberontak dan Kerajaan Inggris. CV-2 menjadi kapal AS AL keempat yang bernama Lexington.

Pada 1916, PD I terjadi di seluruh Eropa. Keterlibatan Amerika pada konflik tidak terjadi secara langsung, tetapi rencana terus dibuat untuk menambah kekuatan militer terutama AL AS. Ini termasuk perencanaan pembuatan battlecruiser kuat dengan masing-masin seberat 35,300 ton dan terdiri dari enam-kapal bertenaga turbin dengan enam pendidih. Dua kapal pertama rencananya akan diberi nama USS Lexington (CC-1) dan USS Saratoga (CC-3). Perang secara resmi mulai mendekat pada November 1918 dan dengan ini pembangunan militer terus berlanjut di hampir semua negara. Pengembangan battlecruiser terus berlanjut, meskipun dalam keterbatasan model. CC-1 mulai dibuat pada 8 januari 1921, dengan tanggung jawab konstruksi dipegang oleh Fore River Ship and Engine Building Company di Quincy, Massachusetts (New York Shipbuilding di Camden bertanggung jawab pada konstruksi Saratoga). Direncanakan juga untuk pembuatan battlecruiser USS Constellation, USS Ranger, USS Constitution dan USS United States.

Washington Naval Conference – sebuah pertemuan yang diadakan oleh pemain utama AL dunia yang berlangsung di Washington, untuk menyetujui pelucutan senjata dari 12 November 1921 hingga 6 Februari 1922. Tujuan konferensi tidak lebih maupun kurang untuk menjaga kedamaian dunia tanpa peningkatan perlombaan senjata yang dapat memicu perang selanjutnya. Dengan demikian, pembatasan tertentu disetujui dan disyahkan untuk menjaga kekuatan AL selalu dikendalikan. Perjanjian ini menetapkan penghentian konstruksi kapal perang baru dan membatasi ukuran dan persenjataan kapal yang sudah ada. Hal ini membuat sejumlah besar kapal kuat dibongkar dan dibuang, sementara yang lainnya dikonversi menjadi kapal yang kurang agresif seperi Kapal Induk. Aturan ini kemudian dilanggar oleh kekuatan Jerman dan Jepang yang membroduksi dua kapal perang terkuat yang pernah dibuat, KMS Bismarck (Jerman) dan IJN Yamato (Jepang).

Namun demikian, CC-1 dan CC-3 menjalani program konversi yang keputusan formalnya diambil pada 1 Juli 1922. Rencana konstruksi dari USS Constellation, USS Ranger, USS Constitution dan USS United States kemudian dibatalkan secara penuh. Setiap kapal yang tersisa mempunyai bobot mati yang berkurang menjadi sekitar 8,600 ton dengan penghapisan meriam utama 16-inci serta emplasemen turret dan penyimpanan amunisi. Pada tempat mereka, dipasang dek penerbangan sepanjang 800 kaki, dengan lebar 90 kaki dan berada 60 kaki di atas permukaan air. Sebuah ketapel melintang terpasang di-depan dipasang serta derek untuk menangani kargo dan pesawat sesuai kebutuhan. Ruang penyimpanan internalnya dapat dimuati oleh 120 pesawat dalam dek hangar 450 kaki dua lantainya. Terdapat juga ruangan seluas 120 kaki untuk menyimpan pesawat yang sedang tidak dipakai dan sistem tambahan dapat digantung dari atap hangar jika diperlukan. Dua elevator dipasang untuk memfasilitasi pergerakan pesawat dari dek ke dek lain. Hull dari rancangan battlecruiser sebelumnya tetap dipertahankan dengan lapis baja awal dan tambahan dipasang di sepanjang dek dan plat lapis baja dipasang pada dek penerbangan. Terdapat island yang dipasang tepat di depan ceroong asap besar dan keduanya berada di sebelah kanan dalam aransemen revolusioner baru untuk kapal induk. Cerobong asap memberikan kemudahan pada desain, menjadi struktur yang dapat digunakan untuk adaptasi radar baru jika mereka telah tersedia. Fitur kunci lainnya adalah adanya sebuah lubang untuk meluncurkan dan mendaratkan kapal.

Pertahanan dirinya terdiri dari 8 x meriam kaliber 55/8 inci, 12 x senapan anti-pasawat kaliber 25/ 5 inci dan 4 x 6-pounder saluting cannons. Turret meriam 8-inci diset secara pasangan tandem dan keduanya terpasang di bagian depan dan belakang island dan cerobong asap. Awaknya dilaporkan sebanya 1.899 orang yang terdiri dari 1.730 pelaut dan 169 opsir. Tenaganya dihasilkan dari 16 pendidih Yarrow yang memberi tenaga pada 4 turbin uap General Electric dan pada gilirannya menggerakkan motor utama dengan output 180,000 shaft horsepower. Empat generator-turbo menggerakkan empat motor elektrik, dengan dua motor menggerakkan sebuah baling-baling. Aransemen mesin semacam ini merupakan potongan kunci yang dipertahankan dari desain battlecruiser design. Aransemen ini mengijinkan kecepatan lebih dari 33 knot dengan jarak tempuh 10.000 mil laut.

USS Lexington (CV-2) menjadi kapal induk armada pertama bagi AL AS. Dia diluncurkan pada 3 Oktober 1925, di bawah sponsor Mrs. Theodore Douglas Robinson – Assistant Secretary of the Navy – dan kemudian ditugaskan secara resmi pada 14 Desember 1927 dengan Captain Albert W. Marshall di belakang kemudi. Setelah periode tradisi “shake down” untuk kapal AL, USS Lexington bergabung dengan sekutunya dalam Armada Tempur di San Pedro, Kalifornia pada 7 April 1928. Kapal ini menjadi sarana berharga untuk pelatihan awak, opsir dan aviator kelautan, dan berpartisipasi pada semua permainan perang Pasifik yang penting. Kapal ini merupakan salah satu kapal AL AS pertama yang dilengkapi dengan sistem radar maritim pertama yang tersedia dalam bentuk RCA CXAM-1.

Pada saat serangan kejutan Jepang di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, USS Lexington sedang melakukan tugas pengiriman ke Pulau Midway untuk mendukung garnisun Marinir AS dalam mempertahankan benteng. Beruntung bagi Armada Pasifik Amerika, tiga kapal induk utamanya yang berpangkalan di wilayah tersebut sedang keluar dari pelabuhan pada saat penyerangan – termasuk USS Saratoga yang sedang menjalani reparasi di San Diego dan USS Enterprise juga sedang melakukan pengiriman.

Setelah penyerangan, USS Lexington meluncurkan pesawat pencari untuk mencari armada Jepang, tetapi tidak ditemukan. AS kemudian secara resmi mendeklarasikan perang dengan Kekaisaran Jepang dan peran USS Lexington akan lebih dari sekedar mengangkut dan mengirimkan pesawat terbang.

Lexington berperan sebagai flagship untuk Task Force 11 di Pearl di bawah komando Vice Admiral Wilson Brown pada 11 Januari 1942. Ketika sedang berlayar bersama TF 11, kapal ini diserang oleh 18 pesawat Jepang tetapi dapat diatasi dengan pesawatnya sendiri dengan menembak jatuh 17 pesawat. Kapal induk ini melakukan beberapa seri patroli mencari armada musuh dan membuat tameng udara untuk penyerbuan Marshall Islands. Pada 6 Maret 1942, kapal induk ini bergabung dengan Task Force 17 dan USS Yorktown yang lebih baru sebelum kembali ke Pearl untuk direparasi persenjataan. Meriam 8-inci dan empat meriam 5-inci digantikan dengan enam kanon anti-pesawat Oerlikon 28mm terpasang-quadruple dan tigapuluh kanon anti-pesawat Oerlikon 20mm terpasang-tunggal. Kapal induk ini kembali ke TF 17 pada 1 Mei.

Battle of Coral Sea adalah aksi Lexington yang selanjutnya. Dia dan TF 17 melihat sebuah satuan tugas muduh yang dikirim untuk mengawal invasi New Guinea dengan tugas merebut Port Moresby. Port Moresby akan menjadi batu loncatan bagi Jepang untuk invasi ke pulau utama Australia. Armada Kapal Induk AS menyerang armada musuh dari belakang yang rentan. Armada Jepang terdiri dari kapal induk kecil IJN Shoho dan kapal induk besar IJN Shokaku dan IJN Zuikaku. USS Lexington dan USS Saratoga yang menjadi tulang punggung armada AS siap untuk bertempur, logam melawan logam.

Cuaca buruk terjadi dari 5 hingga 6 Mei membuat kedua belah kubu tidak bertemu satu sama lain. Semua berubah pada 7 Mei setelah pasukan invasi Jepang terdeteksi. Armada Amerika merespon dengan meluncurkan dua pertiga pesawatnya karena berfikir bahwa kapal induk Jepang pasti berada di antaranya. Hal ini memaksa armada Jepang mengganti rute tetapi dengan meninggalkan IJN Shoho sebagai pancingan untuk Armada Sekutu yang menyerang. IJN Shoho harus dapat bertahan dengan persenjataan anti pesawat jarak dekatnya dan dengan hanya 21 pesawat. Pesawat Lexington berhasil ditangani oleh aksi pesawat Shoho, tetapi gelombang serangan Saratoga menghantam Shoho dengan setidaknya 13 bom 1.000 lbs, beberapa torpedo dan satu tabrakan pesawat SBD Dauntless. Luar biasanya, AS hanya kehilangan tiga pesawat pada pertempuran ini.

Pada 8 Mei, kedua armada hanya terpisah pada jarak 200 mil dan keduanya saling mengetahui dan kemudian meluncurkan pesawat mereka. Shokaku terhantam dua kalo oleh bomber-tukik USS Saratoga, sebuah bom membuat dek penerbangan tidak dapat dipakai. Pesawat Lexington datang terlambat, tetapi dapat menghantam Shukaku dengan bomnya dan membuat kerusakan yang lebih parah. Walaupun Shukaku selamat dan tidak tenggelam, kapal induk ini kehilangan sebagian besar air grupnya di Coral Sea.

Pada sisi lain medan pertempuran, sebuah grup kuat pesawat Jepang yang terdiri dari 69 pesawat mendekat dan menyerang langsung ke Yorktown, tetapi kerusakan yang dihasilkannya tidak membahayakan kapal. Pada saat yang sama, pesawat Jepang lain menyerang Lexington dan menghantamnya secara tepat dengan dua torpedo pada bagian depan kiri bow-nya. Secara bersamaan,bomber-tukik menukik dan membuat dua hantaman telak ke Lexington dari atas, satu ke struktur cerobingnya dan yang satunya di bagian kiri depan dek penerbangan. Serangan ini merusak elevator Lexington tetapi dek penerbangan tetap utuh.

Ledakan langsung dan sedikit melesetnya bom dan torpedo Jepang membuat kerusakan internal yang parah dari pada yang diperkirakan pada awalnya. Efeknya merembet ke tangki bahan bakar di bawah dek penerbangan. Satu jam kemudian, ledakan mulai terjadi, di berbagai tempat di kapal dan selanjutnya menyulut gas, yang menyebabkan ledakan beruntun yang menggoncang kapal dan kebakaran mulai terjadi. Kapal miring ke kiri dan asap membumbung tinggi.

USS Lexington yang terbakar dan mulai tenggelam (foto: www.militaryfactory.com)

Sadar Lexington akan segera tenggelam, pesawat yang tersisa di kapal ini diperintahkan untuk terbang ke USS Yorktown. Lexington sendiri kemudian ditinggalkan sesuai perintah kapten pada 17:00 dan pada akhirnya kapal ini ditenggelamkan dengan dua torpedo dari USS Phelps untuk mencegahnya dirampas oleh musuh. Sebagai penghormatan, orang terakhir yang meninggalkan kapal adalah Captain Frederick Carl Sherman dan Executive Officer, Commander Morton T. Seligman. USS Lexington secara resmi tenggelam pada 19:56 dan keterlibatannya dalam perang berakhir. Selama PD II, Lexington dan awaknya mendapatkan American Defense Service Medal, Asiatic-Pacific Campaign Medal (dengan dua bintang) dan World War 2 Victory Medal. Dari 2,951 awak di atas Lexington pada saat Battle of Coral Sea, 216 di antaranya tewas saat bertugas.

Walaupun secara teknis Battle of Coral Sea memberikan kemenangan pada Jepang, tetapi hal ini merupakan kemunduran besar bagi Jepang dalam penaklukan Pasifik dan invasi ke pulau utama Australia. Amerika kehilangan kapal induknya dan menjadi pelajaran keras untuk pertempuran di masa yang akan datang yang menghasilkan kemenangan bagi mereka.

Selama pengoperasiannya, USS Lexington (CV-2) diberi julukan “Gray Lady” dan “Lady Lex”. Lima hari setelah laporan tenggelamnya kapal ini, pekerja di Fore River Shipbuilding Company di Quincy, Massachusetts membuat petisi kepada AL AS untuk merubah nama kapal induk (USS Cabot) yang sedang dalam proses pengerjaan di galangan kapal menjadi USS Lexington. Petisi ini diterima dan Cabot dirubah namanya menjadi USS Lexington (CV-16) sebagai penghormatan pada CV-2.

Skema USS Lexington CV-2 (foto:www.the-blueprints.com)
Spesifikasi USS Lexington (CV-2) 

Dimensi:
Panjang: 888 kaki (270.66m)
Beam: 106 kaki (32.31m)
Draught: 24.25 kaki (7.39m)

Performa:
Kecepatan Permukaan: 33.25kts (38mph)
Jarak: 11,507mil (18,519km)

Persenjataan:
Original:
4 x meriam 8-inci /55 caliber terpasang ganda
12 x meriam anti-pesawat 5-inci terpasang tunggal
Setelah Reparasi:
8 x meriam anti-pesawat 5-inci terpasang tunggal
6 x meriam anti-pesawat 28mm terpasang-quadruple
30 x senapan anti-pesawat Oerlikon 20mm

Struktur:
Awak: 2,122
Bobot Mati: 37,000ton

Mesin:
Mesin: 16 x pendidih pada 300psi; turbin bergigi dan electric drive shafts; 4 x shaft.

Air Arm:
91 pesawat dalam berbagai tipe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *