USS Saratoga (CV-3) Aircraft Carrier

USS Saratoga (CV-3) (foto: www.militaryfactory.com)
Nama: USS Saratoga (CV-3) 
Tipe Klasifikasi: Aircraft Carrier 
Kelas Kapal: Kelas-Lexington 
Negara Asal: Amerika Serikat 
Jumlah Kapal Sekelas: 6 
Operator: Amerika Serikat 
Kapal Sekelas: USS Lexington (CV-2); USS Saratoga (CV-3); USS Constellation (CC-2); USS Ranger (CC-4); USS Constitution (CC-5); USS United States (CC-6) 

USS Saratoga (CV-3) identik dengan sister shipnya (dan merupakan lead ship kapal sekelasnya) USS Lexington (CV-2). “Sara” sebenarnya mulai ditugaskan sebulan sebelum “Lady Lex” karena rangkanya di-laid down enam bulan lebih cepat, membuatnya menjadi kapal induk kedua yang dibuat oleh AL AS. Sebenarnya, AL AS aslinya ingin mempunyai program pembangunan enam battlecruiser pada 1916, kapal ini akan diberinama dari enam frigate pertama AL AS.

Konsep “sebagian cruiser, sebagian battleship” merupakan ide baru untuk AL AS. Enam Kapal ini akan memiliki baterai utama 10x meriam 14-inci dan memiliki bobot mati 34.300 ton dengan kecepatan 35 knot. Konsepnya adalah untuk mengalahkan cruiser negara lain dan menggunakan taktik “hit-and-run” melawan “super dreadnoughts” dari PD I. Di atas kertas, cruiser kelas Lexington dapat menahan super dreadnoughts seperti kelas Bayern dari Jerman.

Pada Akhir PD I, konsepnya masih di atas kertas, baterai meriam kelas C-1 direvisi menjadi 8xmeriam 16-inci dan lebih banyak lapis baja yang berarti mengurangi kecepatan. Kapal kelas-C mulai dikerjakan (laid down) pada Agustus 1920 hingga 1921. Washington Naval Treaty melarang pembuatan kapal perang besar, sehingga semua konstruksi enam cruiser AS ini dihentikan pada awal 1922.

Washington Naval Treaty hanya memperbolehkan konversi dua kapal induk dari cruiser kelas Lexington yang sudah dalam proses konstruksi. Rangka kapal yang sudah diletakkan di Camden menjadi USS Saratoga sementara USS Lexington dibuat di Quincy, Massachusetts. Rangka kapal yang dikonstruksi untuk USS Constellation, USS Ranger, USS Constitution dan USS United States akhirnya dibatalkan dan dibuang. Perjanjian ini melarang pembuatan kapal dengan bobot 33,000 tons, Sara secara resmi memiliki bobot mati tidak lebih dari itu, akan tetapi berat temput penuhnya akan menjadi 43,500 ton. Pembuatan USS Saratoga menghabiskan biaya $43,856,492.59.

USS Saratoga (CV-3) memiliki hull baja dan dek penerbangannya (yang diperpanjang) memiliki panjang 888 kaki. Hull-nya tidak dirubah dari desain asli cruiser sepanjang 830 kaki, dan menguntungkan Sara dalam hal kecepatan dan manuverabilitas. Dek penerbangannya sesuai dengan desain memiliki panjang 874 kaki dan dipatri ke hull bajanya, ditutupi bagian atasnya dengan papan kayu untuk mengurangi total beratnya. Deknya memiliki lebar 111 kaki 9 inci sementara draft-nya 31kaki. Papan kayunya ditutupi dengan dempul dan kemudian dicat.

Dimensi hull memungkinkan dibuatnya hangar besar yang terhubung dengan tempat penyimpanan amunisi, semuanya harus tersusun rapi di sekitar turbin dan pendidih. Desain cerobong asap asli diganti untuk membuat cerobong asap dapat diposisikan di sebelah kanan kapal, di belakang superstruktur islan besar. Akan tetapi, desain ini mengakibatkan kapal induk sedikit miring ke kanan.

Dek penerbangannya cukup untuk pengoperasian pesawat, akan tetapi lebarnya hanya memungkinkan satu peluncuran dan pendaratan pesawat dalam sekali waktu. Dengan desain ini, Sara dapat mengangkut 90 pesawat, tetapi normalnya hanya membawa 83 pesawat. Untuk memindahkan pesawat dari hangar ke dek penerbangan, dua elevator dek dipasang. Karena dek penerbangannya lebih pendek dari landasan biasanya, peluncuran pesawat dibantu dengan ketapel.

Saratoga dilengkapi dengan delapan mesin penggerak listrik turbo General Electric, dua untuk setiap propeller shaft. Mereka menghasilkan 180,000 shaft horsepower yang mampu memberikan kecepatan 32.25 knot, tetapi selama ujicobanya, kapal induk ini dapat mencapai kecepatan 34.99 knot – walaupun tidak diketahi apakah rekor ini terjadi pada saat berat tempur total atau tidak. Untuk menghasilkan tenaga sebesar itu, kapal memiliki 16 x pendidih White & Foster untuk menghasilkan cukup uap yang diperlukan. Kapal ini dapat berlayar sejauh 10.000 mil laut pada kecepatan 10 knot. Awaknya terdiri dari 2,212 opsir dan personel tamtama ditambah dengan aircrew selama waktu damai, tetapi pada 1942, kapal ini memiliki sekitar 3,300 awak, tidak termasuk airwing-nya.

Untuk pertahanan dirinya, sara dipersenjatai dengan empat meriam 8 inci, 200mm/kaliber 55 terpasang ganda dan 12 meriam Mk10 5 inci, 130mm/kaliber 25 terpasang tunggal. Persenjataan sekundernya adalah delapan merian kaliber .050 terpasang tunggal. Aransemen ini diharapkan cukup untuk melindungi Saratoga terhadap kapal permukaan musuh, dan saratoga dianggap tidak memerlukan kapal kawal sama sekali. Akan tetapi pada dasarnya, kapal induk tidak desain untuk menghadapi kapal permukaan secara langsung sehingga meriam 8 inci tidaklah solusi praktis. Setelah beberapa pengalaman perang, seluruh platform persejataanya ditinjau dan direvisi. Pertahanan tambahannya termasuk sabuk lapis baja sepanjang garis air dengan ketebalan 5 hingga 7 inci. Untuk melindungi islan, plat baja 3inci digunakan dan di atas roda kemudi dipasangi dengan lerengan lapis baja setebal 4,5 inci.

Sara mendapatkan awak dan skuadron pesawat baru dan berlayar dari Philadelphia pada 6 Januari 1928 untuk memulai pelayaran “shake down” di Karibia. USS Saratoga bergabung dengan armada bersama USS Lexington. Menurut sejarawan militer, Norman Friedman, USS Saratoga dan sister shipnya, merupakan contoh kapal induk yang sama pentingnya dengan HMS Dreadnought milik Inggris. Kelas ini menjadi standar pengembangan kapal induk di semua AL di seluruh dunia; Sara dan sister shipnya lebih cepat dan membawa lebih banyak pesawat jika dibandingkan dengan kapal induk lainnya pada masa itu, dan tentu saja kapal induk milik IJN.

Saratoga menghabiskan sebagian besar waktunya bersama armada untuk melakukan latihan yang didesain untuk menguraikan definisi peran kapal induk dalam peprangan di masa yang akan datang. Baik CV-2 dan CV-3 bergabung dengan armada dan berlatih penyerangan ke Terusan Panama dan Pearl harbour. Saratoga membantu pengembangan taktik penyerangan cepat kapal induk yang menggunakan destroyer dan cruiser sebagai pelindung, walaupun tidak berguna bagi battleship yang ada pada saat itu karena terbukti terlalu lamban untuk angkatan bergerak. Pejabat AL mengerti bahwa kapal induk merupakan target msush yang paling berhaga, sehingga pelatihan terus dilakukan untuk mengembangkan taktik dalam melindungi kapal induk.

Antara 1931 hingga 1941 Saratoga berpangkalan di San Diego Naval Base di California. Perumahan di sisi pelabuhan mengijinkan keluarga pelaut untuk tinggal di sekitar pelabuhan. Bahan bakar dan peralatan logistic disimpan di dock sebelahnya. Untuk overhaul normal, Sara akan berlayar ke Bremerton Navy Yard di Washington. Saratoga berada di perairan Hawaii hingga 1933 ketika Jepang mulai menyerang kapal di perairan China. Sara kembali ke Karibia untuk pelatihan pada 1934 dan kembali ke Pasifik melalui Terusan Panama untuk permasalahan Armada di area tersebut selama 1935. Kapal ini kembali ke San Diego dan kembali berlatih di perairan Hawaii pada 1938 dan selama Fleet Problem XIX; dia melancarkan serangan kejutan ke Pearl Harbor sebagai latihan pada 100 mil dari Oahu dan ternyata armada di Pearl Harbor sama sekali tidak siap. Ironisnya pelajaran ini dengan cepat terlupakan.

Sebuah Pesawat bersiap Mendarat ke USS Saratoga (CV-3) (Foto: www.history.navy.mil)

Pada 6 Januari 1941 kapal ini memasuki Bremerton Navy Yard untuk modernisasi. Dek penerbangannya diperlebar dan bagian depannya dibentuk ulang. Sebuah blister torpedo ditambahkan pada sisi kanan kapal. Kapal ini dipasangi dengan sistem radar RCA CXAM-1 generasi pertama yang telah dikembangkan. Radar ini tidak hanya dapat mendeteksi jarak pesawat yang datang, tetapi juga ketinggian dan jumlah pesawat di grup penerbangan. Hingga titik ini, kebanyakan kapal permukaan dapay mendeteksi satu pesawat pada jarak 50 mil, beberapa pada jarak 100 mil. Kapal permukaan besar dapat dideteksi pada jarak 15 mil. Reparasi kapal ini selesai pada April 1941 dan dia tetap berada diperairan Hawaii hingga reparasi dok kering yang sudah dijadwalkan pada November 1941 di Puget Sound, Bremerton Navy Yard. Kapal induk ini kembali ke San Diego pada 7 Desember 1941.

Saratoga menerima berita serangan kejutan Jepang di Pearl dan dia dengan cepat dimuati dengan perlengkapan, amunisi dan bom ekstra bersama dengan awak tambahan. Tujuan serangan Jepang adalah untuk menyerang kapal induk yang berada di dok, tetapi gagal karena pada saat itu tidak ada kapal induk yang berada di sana. Sabagai tambahan, tempat penyimpanan bahan bakar tidak tersentuh oleh serangan Jepang. Walaupun merupakan kerugian besar bagi armada Pasifik, Jepang tidak membahayakan aset vital AS, kapal induk mereka.

Saratoga berlayar pada 8 Desember dengan skuadron udara Marinir, tetapi rute dialihkanuntuk membantu Pulau Wake yang diserang oleh Jepang. Kembali ke Pearl, kapal kargo Tangier yang diisi dengan suplay dan pasukan, dan armada oilier Neches telah disiapkan. Mereka bergabung dengan destroyer dan menuju Wake. Sara berlabuh di Pearl pada 15 Desember dan setelah pengisian bahan bakar, dia kembali berlayar pada hari yang sama. Karena lebih cepat dari kapal kargo dan oilier, Sara berhasil menyusul konvoi ini pada 17 Desember dan semua menuju ke Pulau Wake. Akan tetapi, konvoi kembalu melambat karena destroyer membutuhkan pengisian bahan bakar. Pada 21 Desember, berita sampai ke Pearl bahwa pesawat Jepang menyerang pulau secara masal dan pasukan sudah mendarat di pantai, sehingga Saratoga dan konvoinya diperintahkan untuk kembali ke Hawaii, dan pulau Wake jatuh pada hari berikutnya.

Naval Operations membuat Saratoga tetap berada di perairan Hawaii dalam antisipasi serangan lain Jepang ke Pearl Harbor, yang ternyata tidak terjadi. Dia diperintahkan untuk bergabung dengan USS Enterprise dan kembali ke laut. Sealama pelayaran pada 11 Januari 1942, Saratoga terdeteksi oleh kapal selam Jepang I-6 yang dikomandoi oleh Lt.Cdr. Inaba yang menembakkan 3 torpedo Type 89 dari jarak 4,700 yard, menghantam pertengahan sisi kiri kapal. Tiga tuang pendidih dibanjiri dengan lebih dari 1.000 galon air dan mengakibatkan tewasnya enam pemadam kebakaran. Kapal menjadi miring ke kanan karena berat yang hilang di sisi kiri. Dengan menggunakan pompa untuk menstabilkan kapal, awak berhasil membuat kapal ini menuju ke Pearl dengan kecepatan 16 knot. Di pelabuhan, meriam 8-inci-nya dihilangkan karena terbukti tidak berguna melawan pesawat.

Setelah perbaikan kecil di Pearl Harbor, Saratoga berlayar ke Bremerton Navy Yard untuk perbaikan permanen. Menjadi jelas bahwa Sara membutuhkan tambahan proteksi anti-pesawat, sehingga 12 meriam Mk10 5 inci, 130mm kaliber 25 ditambahkan dan dua senapan mesin 1,1 inci terpasang quadruple diganti 5 meriam 5 inci kaliber 38 bersama dengan 9 x senapan Bofors anti-pesawat 40mm. Sebagai tambahan 5 x meriam anti pesawat 20 mm terpasang quadruple dan senapan anti pesawat 20 mm tunggal dipasang.

Saratoga meninggalkan Waqshington dan tiba di San Diego pada akhir Mei 1943 untuk memulai pelatihan kelompok pilot baru untuk lepas landas dan mendarat di atas kapal induk. Saratoga menerima informasi kekhawatiran akan adanya pertempuran di Midway. Kapal induk ini mulai memuat suplay dan persenjataan, dan kemudian menunggu kapal pengawalnya terbentuk. Pada 1 Juni, kapal ini berlayar menuju Pearl Harbor dan sampai pada 7 Juni untuk pengisian bahan bakar. Dia terlambat untuk Battle of Midway yang telah terjadi pada 6-7 Juni 1943. USS Hornet dan USS Enterprise membutuhkan penggantian pesawat, sehingga Saratoga memindahkan 34 pesawa dan beberapa airmen-nya pada 11 Juni dan kembali ke Pearl. Sara mengambil tambahan pesawat dan mengangkutnya ke Pulau Midway untuk mendukung pertahanannya.

Saratoga dipilih sebagai flagship oleh Rear Admiral F.J. Fletcher dan menjadi satu-satunya kapal iduk yang ditugaskan untuk mendukung operasi militer Guadalcanal yang akan terjadi. Kepulauan Fiji dipilih sebagai area penggelaran pasukan dan menyediakan tempat untuk pelatihan di pantai bagi pasukan dan pesawat dari kapal induk. Pesawat Sara membuka serangan di Guadalcanal padapukul 05.00 7 Agustus 1942. Pesawatnya mengebom dan memberondong pantai di sepanjang landasan pacu yang sedang dibangun. Pesawat Sara menembak jatuh sejumlah pesawat Jepang, menjauhkan musuh dari kapal induk. Admiral Fletcher menarik kapal induk untuk pengisian bahan bakar di Solomon. Malam harinya, pasukan AL Jepang menyerang armada di Guadalcanal dan menenggelamkan empat cruiser AL AS, sementara sisanya mundur, meninggalkan Marinir terdampar di Guadalcanal tanpa suplay yang dijadwalkan akan dikirim. Sara diam di Solomon melakukan apapun yang dapat dilakukan dan selanjutnya didukung oleh USS Enterprise.

Pertempuran berkembang dalam 12 jam, AL Jepang menguasai malam hari, menyerang Guadalcanal semaunya. Selama siang hari, AL AS dengan Sara dan Enterprise didukung oleh pengawalnya, melakukan patroli udara dan laut, mencari pesawat dan kapal Jepang untuk diserang. Pada 23 Agustus 1942, bomber tukik dan pesawat torpedo milik Sara menenggelamkan kapal induk Jepang Ryuio dan merusakkan tender pesawat amfibi Chitose. Pesawat Jepang mati-matian mencari Saratoga, tetapi hanya menemukan USS Enterprise, sedikit merusakannya dalam beberapa serangan. Pesawat dari Amerika meluncurkan lagi dan menemukan pengangkutan pasukan menuju Guadalcanal. Dengan tenggelamnya Ryuio, kekuatan udara musuh di wilayah itu berkurang sehingga Sekutu berhasil memukul mundur pengangkutan itu.

Dua hari kemudian saat berpatroli, Sara terhantam sebuah torpedo di sepanjang blister sisi kanan, torpedo ini diluncurkan oleh kapal selam I-26 . Hantaman torpedo ini hanya mengakibatkan kerusakan kecil di hull dan banjir dapat dilokalisasi di satu ruangan dengan tanpa kehilangan nyawa. Akan tetapi, sistem elektrik turbonya mengalami kerusakan karena hubungan arus pendek dan membuat mesin Sara mati di lautan. Admiral Fletcher memutuskan untuk menerbangkan sebagian besar pesawatnya ke Guadalcanal sementara kapal induk sendiri ditarik oleh Cruser CA-36 ke Tongatabu untuk perbaikan kecil dan kemudian ke Pearl Harbor pada 21 September 1942. Sementara kapal induk ini tidak dapat bertugas, pesawatnya yang mendarat di Guadalcanal tetap melanjutkan pertempuran.

Sara menyelesaikan perbaikannya dan berlayar ke wilayah Fiji, tiba pada 5 Desember 1942, dan beroperasi di Solomon Timur untuk 12 bukan ke depan. Pada Juli 1943, Sara bergabung dengan kapal induk Inggris HMS Victorious. Pada 1 November kapal induk ini mmebantu pendaratan pasukan di Bougainville. Bersama dengan pendaratan, ada misi sekunder untuk menghancurkan lapangan udara AD Jepang di Pulau Buka. Pada 2 November Rear Admiral Sherman menerima berita perkembangan AL Jepang di Rabaul yang dapat mengancam Sekutu. Sebuah rencana dibuat untuk menyerang benteng di Rabaul yang dianggap sebagai pangkalan Jepang di Pasifik dengan pertahanan terkuat kedua setelah Truk. Penyerangan Rabaul akan menjadi pertunjukan bagi AL dan AD bersama dengan kapal dari negara Selandia Baru dan Australia. Gugus Tugas (TF) 38, dengan Saratoga berpengawal Princeton, bergerak menuju jarak jangkau serangan ke Rabaul pada 5 November. Dengan menggunakan cuaca buruk sebagai pelindung, Sara meluncurkan 90 pesawat pada jarak sekitar 100mil dari target. aircraft some 100 miles out from the target zone. Pesawat ini menghindari radar Jepang dan secara terbuka mulai membuka serangan di pelabuhan.

Enam cruiser dan tiga destroyer dibom dan rusak. Bomber tukik Dauntless menjatuhkan bom 500-lb pada IJN Atago tanpa ada hantaman langsung. Akan tetapi, bom yang sedikit meleset ini justru menghasilkan kerusakan berat dan menyebabkan kematian Kapten kapal dan 22 awak. IJN Mogami juga terhantam oleh sebuah bom 500lb dan terlihat terbakar, tercatat 19 awak tewas. IJN Maya terkena sebuah bom dan menyebabkan kerusakan serius didekat ruang mesin dan 70 awak tewas. IJN Agano mengalami sedikit kerusakan akibat terkena sebuah bom 500lb, merusak sebuah meriam dan membunuh seorang awak. IJN Takao terkena hantaman langsung dua bom 500lb yang mengakibatkan kerusakan parah dan tewasnya 23 awak. IJN Chikuma diserang beberapa pesawat yang mengakibatkan kerusakan mesin. Serangan kejutan ini berhasil dan banyak kapal perang Jepang yang meninggalkan Rabaul ke Truk untuk perbaikan. Selanjutnya, 5th Army Air Force yang berada di Green Island, barat laut Bougainville, juga menyerang Rabaul tidak lama setelah serangan Saratoga. General Kenney mengirimkan 27 pesawat bomber berat B-24 Liberator bersama dengan 58 pesawat fighter kawal P-38.

Sebagai usaha menghancurkan Rabaul agar tidak menjadi pangkalan besar Jepang, pada 11 November, AL AS mengrimkan tambahan kapal termasuk USS Independence, USS Essex dan USS Bunker Hill. Task Force 38 dengan Saratoga meluncurkan ratusan pesawat untuk menyerang fasilitas perkapalan dan pelabuhan Rabaul. Cruiser IJN Agano terkena torpedo dan menjadi miring. AD Jepang meluncurkan sekitar 120 pesawat untuk pertahanan dan mencari keberadaan kapal induk AS, dengan 35 pesawat hilang pada prosesnya. Hasil dari pertempuran ini, enam cruiser IJN rusak berat dan 52 pesawat dihancurkan. AL AS kehilangan 10 pesawat dari kapal induk dan 17 bomber dari pangkalan darat. Saratoga menjadi kapal utama pada pertempuran ini.

Setelah Rabaul, Sara dan cruiser Princeton dilepas dari TF 38 dan ditugaskan sebagai “Relief Carrier Group” untuk penyerangan di Gilberts. Target serangan pertamanya adala pulau Nauru pada 19 November 1943. Kapal induk ini juga melakukan pengamanan pada kapal Liberty yang mengangkut pasukan ke Makin dan Tarawa. Saratoga telah berada di Pasifik selama setahun dan membutuhkan overhaul. Selanjutnya, dia tiba di San Francisco pada Desmeber 1943. Cerobong asapnya diperendah 15 kaki untuk membantu mengurangi bayangan profil dan mengurangi gangguan pandangan bagi pesawat. Bridge dibuka untuk pemandangan luar dan tambahan 16 meriam Bofor terpasang quadruple dipasang. Sehingga total terdapat 25 meriam Bofor terpasang quadruple. Tripod asli digantikan dengan tiang tunggal dengan radar RK-1 baru. Enam bulan kemudian, dia menerima tambagan radar untuk deteksi pesawat yang duoasang di cerobong dan dua ketapel hidrolis untuk menggantikan ketapel flywheel. Juga blister torpedo di sebelah kiri dipasang.

Meninggalkan San Francisco, Sara tiba di Pearl pada 7 Januari 1944 dan mulai jadwal pelatihan termasuk bagi awak baru. Tidak lama kemudian, AL menugaskan Sara untuk nergabung dengan dua kapal induk kecil, USS Langley (CVL-27) dan USS Princeton (CVL-23), untuk memberikan kekuatan udara besar menuju kepulauan Marshall. Armada kapal induk ini memiliki 180 pesawat dan menyerang pulau Wotie dan Taroa selama 72 jam dan kemudian menyerang pulau utama Eniwetok selama lima hari, dan pada akhirnya melindungi pendaratan pantai pada 17 Januari . Marinir mendapatkan beberapa kesulitan di sini dan armada kapal induk melakukan Patroli Udara Tempur (CAP-Combat Air Patrol) hingga 28 Februari.

Navy Department, pada 1944, mempertahankan tiga puluh kapal induk aktif dan memilih kapal induk tertua untuk tugas bersama AL Inggris di Timur Jauh, yaitu USS Saratoga. Dengan pengawalan destroyer, Sara melakukan pelayaran dengan Armada Inggris yang terdiri dari kapal induk HMS Illustrious, empat battleship dan sebuah angkatan kawal. Pada 31 Maret 1944, sebuah battleship Perancis bergabung dengan armada dan Saratoga mengadakan pelatihan gugus tugas kapal induk. Pilot milik Sara berusaha memberikan pengalaman perang kepada pilot Inggris sebanyak mungkin. Armada ini berlayar ke Sumatra dan mulai melakukan penyerangan ke pelabuhan Sabing. Jepang tidak siap akan adanya armada musuh, dan kapal induk menyerang instalasi pelabuhan dan pantai, sementara battleship menghancurkan kapal di pelabuhan. Sebuah misi kedua diputuskan dan armada berlayar ke Surabaya di Jawa, dan sekali lagi, Jepang tidak siap dengan serangan ini, dan pelabuhan hancur total. Pelatihan dari Sara berakhir dan armada Inggris terus beroperasi di perairan Timur Jauh melawan musuh, sekarang dengan pengetahuan dan pengalaman baru yang diberikan oleh Sara.

Saratoga kembali ke AS pada 10 Juni 1944 dan diperbaiki, kemudian melapor ke Pearl pada September 1944 untuk melatih pesawat fighter-malam bersama dengan kapal induk USS Ranger (CV-22). Pada January, Saratoga berlayar bersama USS Enterprise untuk melakukan misi penerbangan malam di against Iwo Jima. Setelah tiba, Saratoga ditugaskan untuk melakukan CAP, sementara kapal induk lain menyerang Iwo. Sara terus melakukan serangan dan pada 21 Februari 1945 terkena 5 bom dalam tiga menit. Dek bagian depan dan dek hangar Sara mengalami kerusakan dan 123 awaknya terbunuh. Dengan tenaganya sendiri, dia sampai di Puget Sound pada 16 Maret. Setelah perbaikan, dia kembali ke Pearl untuk mengadakan pelatihan dan secara resmi mundur pada 6 September 1945, ketika Jepang secara resmi menyerah pada Sekutu. USS Saratoga menerima total 7 Battle Stars untuk pengabdiannya selama PD II dan memegang rekor untuk pendaratan pesawat sebanyak 98,549 untuk jangka waktu lebih dari 17 tahun. Setelah perang, Sara seperti kapal AL AS lainnya ditugaskan untuk mengangkut para veteran perang kembali ke AS di bawah program “Magic Carpet Service”. Dia membawa pulang 29,204 orang, lebih dari kapal lain manapun di program ini.

Sara adalah kapal induk tertua yang masih dioperasikan AL AS pada saat itu, dan karena surplus kapal induk, dia ditugaskan sebagai kapal uji bom atom di Bikini Atoll pada 1 Juli 1946. Sara selamat dari ledakan dengan kerusakan kecil, memperlihatkan konstruksi Yankee yang kokoh. Pada 25 Juli, ledakan kedua terjadi dengan Sara hanya berjarak 300 yard dari jarak mematikan ledakan. Setelah ledakan, hull Sara rusak dan dalam 7.5 jam dia tenggelam dan dihapus dari daftar Naval Register aktif pada 15 Agustus 1946. Akhir yang kurang pantas bagi kapal induk ini.

3-View USS Saratoga (CV-3) (gambar: www.the-blueprints.com)

Spesifikasi USS Saratoga (CV-3) 

Dimensi:
Panjang: 880 kaki (268.22m)
Beam: 106 kaki (32.31m)
Draught: 24.25 kaki (7.39m)

Performa:
Kecepatan Permukaan: 33.25kts (38mph)
Jarak: 11,507miles (18,519km)

Persenjataan:
4 x meriam kembar 8-inci kaliber 55
12 x meriam tunggal 5-inci

Struktur:
Awak: 2,122
Bobot Mati: 38,746ton

Mesin:
Mesin: 16 x Pendidih pada 300psi; turbin bergerigi dan penggerak elektrik; 4 x shaft.

Air Arm:
91 pesawat dengan berbagai tipe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *