Chieftain Main Battle Tank

Chieftain Mk 3 Laturn 2 (foto: en.wikipedia.org)

Nama: Chieftain 

Tipe Klasifikasi: Main Battle Tank 
Kontraktor: BAe Systems Land Systems – Inggris 
Negara Asal: Inggris 
Jumlah Produksi: 900 
Operator: Inggris, Kuwait, Oman, Irak (rampasan dari Iran), Iran dan Yordania 

FV 4201 Chieftain adalah MBT milik Inggris selama 1960an hingga 1970an. MBT ini merupakan salah satu MBT tercanggih di eranya, dan saat diperkenalkannya pada 1966, MBT ini memiliki meriam utama terkuat dan lapis baja terberat dari semua tank di dunia. Chieftain juga memperkenalkan posisi pengemudi “supine” (miring ke belakang), memungkinkan desain hull yang miring dengan berat yang dikurangi.

MBT Chieftain secara cepat menjadi tank terkuat di pasaran hingga kemunculan Leopard 1 milik Jerman Barat. Sebagai pengganti tank seri Centurion, meriam utama 120mm milik Chieftain merupakan upgrade utama dari standar 105mm Perang Dingin, dan chassisnya memberikan kemungkinan besar untuk pengembangan panjang untuk varian baru di masa yang akan datang. MBT ini terlihat secara diterima secara luas di Timur Tengah melalui ekspor dan terlibat dalam operasi tempur ekstensif selama perang Iran-Irak, bertempur untuk kedua belah pihak, baik diperoleh dengan membeli (Iran), atau berasal dari rampasan (Irak, rampasan dari Iran).

Dari luar, Chieftain mempertahankan desain low profile strategis. Hal ini berhasil dilakukan melalui desain posisi duduk pengemudi yang merebah/berbaring di bagian depan hull, sementara desain turret dan hull dipertahankan tetap rendah dari tanah. Chieftain juga dicirikan dengan enam road wheel besar di setiap sisi roda rantainya, desain hull depan dengan kemiringan tajam dan turret cor baja miring yang terpasang di bagian tengah hull. Mesin kuat Leyland 6-silinder berada di bagian belakang hull dan menghasilkan sekitar 750hp. Akomodasi awaknya berjumlah 4, yaitu pengemudi, komandan, penembak dan loader. Pengemudi di bagian depan hull, komandan dan penembak di bagian kanan turret, sedangkan loader di bagian kiri turret.

Chieftain terkenal dengan pemakaian meriam utama powerful L11A5 120mm yang pada saat itu menjadi meriam utama terkuat dan mampu membawa 64 proyektil 120mm. Pengisian proyektil terdiri dari dua fase proses yang membutuhkan loading charges. Tipe amunisinya standar yang terdiri dari armor piercing, tracer, smoke dan yang lainnya. Persenjataan tambahannya terdiri dari senapan anti-pesawat 12,7 mm yang terpasang di atas turret, tetapi pengoperasiannya dapat dilakukan dari dalam turret. Sebuah senapan mesin 7.62mm terpasang secara koaksial terhadap meriam utama, sementara senapan mesin 7.62mm tambahan terpasang di kupola. Untuk sistem pertahanan, terdapat 12 peluncur granat asap yang terdiri dari dua bagian (masing-masing 6 peluncur di setiap sisi turret). Peralatan perlindungan NBC penuh dan penglihatan malam juga dipasang. Selanjutnya, lapis baja pasif diupgrade sehingga meningkatkan tingkat proteksi awak.

Iran menerima Chieftain dengan nama seri “Shir” dalam dua mark selama masa produksi, dengan mark kedua mencapai 1.225 tank. Dipercaya bahwa Irak berhasil merampas 100 Shir dalam pertempuran. Oman dan Kuwait juga menerima sejumlah tank bekas dan baru.

Chassis Chieftain terbukti sangat adaptable dan menghasilkan berbagai macam varian yang sudah beroperasi. Di antaranya mulai dari armored recovery and engineer vehicles dan armored bridgelayer. Chieftain pada akhirnya digantikan perannya oleh MBT seri Challenger.

Pengembangan

Chieftain diturunkan dari lini tank panjang yang dimulai dari Mark II Matilda II pada 1939. Suksesor Matilda berkembang dari pendukung infantri melalui cruiser menjadi MBT karena merekadibuat jauh lebih cepat dan bersenjata besar, Matilda II (40mm), Cromwell (57mm dan 75mm), Comet (76mm), dan Centurion (76.2mm, 83.4mm, dan 105mm).

Centurion (foto: www.historyofwar.org)

Setiap desain selanjutnya menjadi lebih berat. Centurion mempunyai berat mendekati 57 ton dan dapat bergerak dengan kecepatan hanya 22 mil per jam di jalanan.

Pada akhir 1940an dengan ancaman T-54/55 milik Soviet dan rumor T-62, desainer-desainer di Leyland mulai menjalankan program Chieftain untuk menggantikan Tank Medium Chieftain dan Tank Berat Conqueror. Hasilnya adalah tank yang mengakomodasi daya tembak, kecepatan dan agilitas.

Chieftain adalah sebuah pengembangan evolusioner radikal dari lini tank yang sukses, Centurion. Inggris belajar selama PD II bahwa tank-tank mereka sering kalah dalam hal proteksi dan daya tembak, dibandingkan dengan tank yang dipakai oleh musuh, dan hal ini menyebabkan level kematian yang tinggi ketika bereka berhadapan dengan tank Jerman yang superior selama PD II.

Pada periode pasca perang, AD Inggris memasangi Centurion dengan meriam 120mm dari tank berat Conqueror sebagai senjata anti-tank jarak jauh melawan IS-3 milik Soviet.

Leyland, yang terlibat dalam Centurion, telah membuat purwarupa tank baru milik mereka sendiri pada 1956, dan ini menjadi spesifikasi untuk tank baru. Desainnya diterima pada awal 1960an. Chieftain didesain agar memiliki lever proteksi sebaik mungkin dan dilengkapi dengan meriam rifled 120mm. Lapis bajanya yang tebal dan berat mengakibatkan mobilitas berkurang, terutama karena terbatasnya tenaga mesin, membuat hal ini menjadi kekurangan utama Chieftain. Mesin yang dipilih memakai multi-fuel dan pada saat diperkenalkan, tenaganya lebih rendah dari yang diharapkan. Pengembangan dan perbaikan lanjut terhadap mesin ini gagal meningkatkan tenaga mesin sesuai dengan yang diharapkan.

Mesin BL awal menghasilkan sekitar 450bhp kepada sprocket yang berarti kecepatan maksimalnya sekitar 25 mpj dan performa lintas alamnya menjadi sangat terbatas. Kegagalan lapisan silinder dan kebocoran pendingin umum terjadi. Oleh karena itu, asap putih menjadi familiar muncul dari saluran gas buang. Pada akhir 1970an, desain mesin berubah dengan munculnya Belzona yang digunakan untuk memperbaiki seal lapisan silinder. Output mesin juga meningkat menjadi 850bhp ke sprocket. Ini berarti performa yang lebih baik dan bertambahnya kecepatan. Akan tetapi, mesin merupakan kegagalan utama MBT ini, bersama dengan suspensi coil spring yang tidak nyaman, yangmembuat tank sulit dikendalikan pada saat lintas alam, dan membuat awak di dalamnya tidak nyaman.

Desain

Desain Chieftain mengutamakan pada daya tembak dan proteksi, tetapi dengan mengorbankan mobilitas. Berat tank yang sekitar 60 ton ini membuatnya underpowered. Silhouette Chieftain dua kaki lebih rendah jika dibandingkan dengan pendahulunya, Conqueror.

Turret Chieftain (foto: en.wikipedia.org)

Desain Chieftain termasuk hull dan turret yang sangat miring yang sangat meningkatkan ketebalan efektif dari armor frontal – 388 mm (15,1 inci) pada glasis (dari ketebalan aktual 120 mm (4,7 inci)) dan 390 mm (15,4 inci) pada turret (dari 195 mm (7,7 inci)). Chieftain memiliki turret mantleless, untuk mendapatkan keuntungan penuh dari perebahan tank hingga 10 derajat pada posisi hull-down.

Turret dicor dalam dua bagian dan kemudian dipatri bersama. Appliqué armor memberikan proteksi turret tambahan pada bagian depan dan belakang kupola komandan tank.

Hull dicor dalam tiga bagian, yang kemudian dipatri bersama, dan seperti tank Inggris sebelumnya, dibagi menjadi tiga kompartemen – kompartemen kemudi, tempur dan mesin, dari depan ke belakang.

Chieftain membawa empat awak. Pengemudi berada di depan dalam tempat duduk semi-berbaring, yang membantu mengurangi ketinggian total, dengan palka di sebelah kanan. Komandan, penembak dan loader berada di dalam turret, yang berisi sebuah kupola berotasi terpisah untuk komandan. Komandan memiliki penglihatan 360° penuh melalui berbagai periskop, serta peralatan penglihatan malam. Di bagian kiri turret terdapat searchlight infra-merah besar di ruang berlapis baja. Loader berada di sebelah kiri dan penembak di sebelah kanan, sementara komandan berada di belakang penembak.

Mesin Leyland L60 memiliki desain piston berlawanan dua-tak dengan multi-fuel sistem, sehingga mesin ini dapat menggunakan petrol ataupun diesel, atau bahan bakar apapun di antaranya. Pada kenyataannya mesin tidak dapat menghasilkan tenaga seperti yang diinginkan dan tidak handal dengan perkiraan tingkat kerusakan 90%, tetapi pengembangan dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Masalah utama mesin ini adalah kegagalan lapisan silinder, masalah penggerak fan dan kebocoran terus-menerus karena getaran dan saluran pipa yang buruk. Akan tetapi, dengan peningkatan tenaga mesin, beratnya pun menjadi lebih berat.

Tank dikendalikan oleh conventional tillers hydraulically actuating onto external brake discs. Cakram bekerja melalui epicyclic gearbox menghasilkan “regenerative” steering. Pada kenyataannya, cakram dan bantalan terendam dalam minyak dan bahan bakar, sehingga steering (pengendalian) menjadi sulit. Gearbox beroprasi dengan gaya-sepeda-motor dengan sebuah kick up/kick down “peg” di bagian kiri yang menggerakan unit elektro-hidrolis di dalam gearbox; akseleratornya beroperasi dengan kabel oleh kaki kiri. Suspensinya bertipe Horstmann bogie dengan plat sisi besar untuk melindungi track dan memberikan perlindungan stand-off dari serangan hollow charge.

Ketika diperkenalkan pada Mei 1963, Chieftain merupakan tank dengan persenjataan terkuat di dunia. Persenjataan utamanya adalah meriam rifled L11A5 120 mm. Meriam ini berbeda dengan kebanyakan tank pada saat itu karena menggunakan proyektil dan charges yang diisi secara terpisah, berkebalikan dengan amunisi tetap tunggal.

Charges terbungkus dalam tas yang dapat terbakar. Charges yang dapat terbakar disimpan dalam 36 ceruk yang dikelilingi dengan campuran air/glikol, yang disebut sebagai “wet-stowage”. Jika proyektil musuh menembus kompartemen tempur, jaket akan hancur dan campuran air/glikol akan merendam charges dan mencegah ledakan besar.

Meriam dapat menembakkan berbagai macam amunisi, tetapi biasanya bertipe high explosive squash head (HESH), armour-piercing discarding sabot (APDS), atau amunisi praktis yang setara dengan kedua tipe tersebut. AD Inggris memutuskan untuk mengganti meriam utama Chieftain dengan meriam rifled bertekanan tinggi L30, yang lebih kuat.

Chieftain dapat membawa hingga 62 proyektil (walaupun APDS hanya dapat membawa 36 buah, karena terbatasnya penyimpanan propelan). Meriam distabilkan dengan sistem fully computerized integrated control, sehingga meriam utama dapat ditembakkan secara akurat ke sasaran dengan jarak 2.000m ketika bergerak, dan 3.000m kerika diam. Persenjataan sekundernya terdiri dari senapan mesin koaksial L8A1 7.62 mm dan sebuah senapan mesin 7,62 mm lagi terpasang di kupola komandan. Senapan mesin range-finding digunakan untuk membantu meriam utama sebelum Barr and Stroud laser sight Barr and Stroud dipasang. Setelah itu, sebagian besar senapan range-finding dilepas. Dua pelontar granat asap enam-laras dipasang di sisi turret.

Sistem Kontrol Penembakan awalnya adalah Marconi FV/GCE Mk 4. Sebuah ranging gun kaliber .50 (12,7 mm) dipasang di atas meriam utama (dengan amunisi 300 buah). Senapan ini mampu menembak dengan jarak maksimum 2.600 yard (2.400m), pada titik ini tracer pada ranging rounds meledak. Komandan tank memiliki kupola berotasi dengan sembilan blok penglihatan dan sebuah periskop, ditambah dengan senapan mesin 7,62mm dan proyektor inframerah yang koaksial terhadap senjata. Sistem pembidikan disediakan untuk penembak dan komandan, mereka memiliki pembesaran 1x atau 8x, dan mereka dapat diganti dengan sistem penglihatan inframerah untuk operasi malam hari (dengan pembesaran 3x). Sisi kiri turret terdapat searchlight cahaya putih/infra merah besar di dalam sebuah kotak berlapis baja. Sistem ini memiliki jarak jangkau hingga 1-1,5 km.

Dari awal 1970an, versi Mk 3/3 mengganti ranging gun dengan sebiah laser rangefinder Barr and Stroud LF-2 dengan jarak 10km. Ini memungkinkan penyerangan dari jarak yang lebih jauh, dan juga dapat dihubungkang dengan sistem kontrol penembakan, memungkinkan penembakan dan pergantian target yang lebih cepat.

Dari Mk 5 dan seterusnya, sistem kontrol penembakan disediakan oleh Marconi IFCS (Improved Fire Control System), menggunakan komputer balistik digital. Upgrade tidak terselesaikan hingga akhir 1980, ketika beberapa tank (tetapi tidak banyak) mengganti searchlight infra merah dengan TOGS, sistem imaging termal yang sebelumnya dipakai pada Challenger. Banyak tank memiliki lapis baja Stillbrew yang dimaksudkan untuk menghadapi meriam 125 mm Soviet dan misil anti-tank berat. Tank-tank ini menjadi versi Mark 13.

Chieftain memiliki sebuah sistem proteksi NBC, yang tidak dimiliki Centurion. Sistem proteksi NBC ini menggunakan sistem penyaringan udara bertekanan.

Service

Model Chieftain pertama kali diperkenalkan pada 1967. Seperti tank kompetitor asal Eropa lainnya, Chieftain memiliki pasar ekspor besar di negara-negara Timur Tengah, tetapi tidak seperti Centurion, tank ini tidak digunakan oleh negara NATO lain ataupun negara-negara persemakmuran. Chieftain disuplai paling tidak ke enam negara, termasuk Iran, Kurait, Oman dan Yordania. Sebuah perjanjian penjualan Chieftain ke Israel dibatalkan oleh pemerintah Inggris pada 1969 setelah perang Arab-Israel 1967. Iran menjadi negara asing pemakai Chieftain terbesar yang menerima 707 Mk-3P dan Mk-5P, 125–189 FV-4030-1, 41 ARV dan 14 AVLB sebelum revolusi 1979. Chieftain sangat berperan dalam perang Iran-Irak 1980-1988, dan memberikan perlawanan yang baik terhadap tank Soviet. Irak disebutkan berhasil lebih dari 300 Chieftains selama perang, banyak di antaranya masih dalam keadaan baik karena ditinggalkan oleh awaknya. Rencana pengiriman lebih lanjut, seri 4030 yang lebih baik, dibatalkan.

  • Inggris: Mengoperasikan dari 1965 hingga 1995. 
  • Iran: 707 Mk-3P dan Mk-5P, 125–189 FV-4030-1, 41 ARV dan 14 AVLB dibeli sebelum revolusi 1979. 100 tank masih beroperasi hingga 2005. (100 pada 1990, 250 pada 1995, 140 pada 2000, 200 pada 2002). 
  • Irak: 30 tank masih beroperasi pada 1990. Semuanya kemudian hancur atau dibuang. 
  • Yordania: 274 Khalid dikirim antara 1981-1985 + 90 MK5/5 dari Irak. 
  • Kuwait: 175 pada 1976, 45 pada 1989, 20 pada 1995, 17 di penyimpanan pada 2000. 
  • Oman: 27 dikirim pada 1981–85. 

Varian

  • Chieftain Mk 1: 40 tank latih, 1965–1966. 
  • Chieftain Mk 2: Model pertama dengan mesin 650 hp. 
  • Chieftain Mk 3: Peralatan ekstra dipasang memberikan peningkatan pada beberapa sub-mark. 
  • Chieftain Mk.5: Varian produksi akhir, dengan upgrade mesin dan sistem proteksi NBC. 
  • Chieftain Mk.6-9: Upgrade tambahan untuk tank Mark sebelumnya, termasuk tambahan radio Clansman. 
  • Chieftain Mk.10: Upgrade Mark 9, penambahan Stillbrew Crew Protection Package pada bagian depan turret dan cincin turret. 
  • Chieftain Mk.11: Upgrade Mark 10, searchlight diganti Thermal Observation and Gunnery System (TOGS), yang diproduksi oleh Barr and Stroud. 
  • Chieftain Mk.12/13: Pengajuan upgrade lebih lanjut, dibatalkan ketika Challenger 2 diluncurkan. 
  • Chieftain 900: Chieftain dengan lapis baja Chobham 
  • FV4205 AVLB: Bridge-laying vehicle 
  • FV4204 ARV/ARRV: Armoured Recovery Vehicle, Armoured Recovery and Repair Vehicle. 
  • Chieftain AVRE: Armoured Vehicle Royal Engineers, varian ombat engineering yang digunakan oleh Royal Engineers. 
  • Chieftain Marksman: versi self-propelled anti-aircraft gun, yang dilengkapi dengan turret meriam kembar Marksman. 
  • Chieftain Mineclearer: pengembangan penyapu ranjau. 
  • Chieftain Sabre: dengan turret Anti-pesawat 30mm kembar 
  • Khalid (juga bernama 4030P2J – P = Phase & J = Jordan)/Shir (Lion) 1: Varian Yordania/Iran dengan running gear dari Challenger 1. 
  • Weapon Carriers: Chassis Chieftain dimodifikasi untuk membawa senjata pertahanan udara (“Marksman” 2 x 35 mm cannon) dan sebuah howitzer 155 mm dalam berbagai macam modifikasi. 
  • Shir 2: Varian Iran. Terdapat perbedaan visual dari Chieftain Mk. 5 termasuk hull bagian belakang yang miring, penghapusan Searchlight dari area kiri turret dan keranjang penyimpanan dipasang ulang, saluran air dibuang dari sekitar palka pengemudi di plat glasis, kluster lampu dimodifikasi di plat glasis, dan ruang alat penglihatan yang lebih besar di kupola komandan. 
  • Mobarez Tank: Versi upgrade Iran dari Chieftain. 
3-view Chieftain (www.inetres.com)

Spesifikasi untuk Chieftain Mk 5

Dimensi:
Panjang: 35.40 kaki (10.79m)
Lebar: 11.48 kaki (3.50m)
Tinggi: 9.48 kaki (2.89m)

Struktur:
Awak: 4
Berat: 60.6 US Short Tons (55,000kg; 121,254lbs)

Persenjataan:
1 x Meriam Utama 120mm
1 x RMG 12.7mm
1 x Senapan Mesin Koaksial 7.62mm
1 x Senapan Mesin 7.62mm
2 x 6 Pelontar Granat Asap

Amunisi:
64 x proyektil 120mm
300 x amunisi 12.7mm
6,000 x amunisi 7.62mm
12 x Granat Asap

Powerplant:
Mesin: 1 x mesin multi-fuel 6-silinder 2-tak Leyland L60 dengan output 750 hp.

Performa:
Kecepatan Maksimum: 48 km/j (30mpj) 

Kecepatan Lintas Alam: 30km/j
Jarak Maksimum: 280 mil (450 km)

Sistem:
Proteksi NBC: Ya
Penglihatan Malam: Ya

Sumber:

en.wikipedia.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *